Silahkan Masuk

Showing posts with label Wisata. Show all posts
Showing posts with label Wisata. Show all posts

Kota Jambi Miliki Enam Objek Wisata Andalan 0

KOTAJAMBI - Kota Jambi memiliki enam potensi objek wisata andalan yang kini terus dikembangkan supaya mampu meningkatkan kunjungan wisatawan baik dalam maupun luar negeri.

Enam potensi objek wisata itu meliputi, Taman Mini Jambi di Taman Rimba, Danau Sipin, Hutan Kota, Sungai Batanghari, Seberang Kota, dan Tanggo Rajo.

Keenam potensi wisata itu sangat menjanjikan, dan diyakini akan mampu meningkatkan jumlah wisatawan yang datang ke Kota Jambi, karena letaknya yang sangat strategis dan sangat menarik bila ditata dengan baik.

Taman Mini Kota Jambi terletak sekitar tujuh kilometer dari pusat kota, dan hanya 500 meter dari Bandara Sultan Thaha, dengan luas sekitar 18 hektar, terdapat replika dari rumah-rumah adat dalam Provinsi Jambi.

Danau Sipin terletak di Kecamatan Telanaipura, berjarak empat kilometer dari pusat kota, seluas 89,2 hektar berbentuk oval serta terdapat pulau ditengahnya.

Potensi lainnya yakni Hutan Kota dengan luas 11 hektar di Kelurahan Kenali Asam, dilengkapi dengan 166 jenis tanaman dan aneka binatang seperti kera, biawak, ular serta berbagai jenis burung.

Tiga objek wisata lainnya yakni Sungai Batanghari, Seberang Kota dan Tanggo Rajo, semuanya berada dalam satu kawasan, yang juga mempunyai daya tarik sendiri, karena letaknya yang berada di pinggiran kota.

Potensi wisata itu, secara bertahap kini terus dibenahi dengan melibatkan Dinas Pariwisata Provinsi Jambi sebagai pembina teknisnya. (berbagai-sumber)

Bekas Pecahan Kaca yang Dirubah Jadi Rupiah 0

KOTAJAMBI - Ditangan Ujang, pecahan kaca tidak berguna dapat menjadi benda seni dan mempunyai nilai usaha yang dapat menghidupi dirinya dan keluarga. Menurut Ujang, 38 tahun, usahanya ini dimulai sejak dua tahun yang lalu, waktu itu dirinya menjadi karyawan membuat bingkai kaca di pasar Jambi. Ia melihat setiap hari pecahan kaca dibuang percuma. Sejak itulah ia berpikir untuk membuat bingkai yang memiliki seni dengan memanfaatkan pecahan kaca yang tidak berguna.

Untuk uji coba, ia membuat bingkai seni dari pecahan kaca ukuran kecil. Setelah dipasarkan mendapat sambutan baik dari konsumen, maka sejak itu dirinya mulai menekuni membuat bingkai seni dari pecahan kaca dengan bebagai motif dan corak warna.

Sedangkan untuk harga mulai 25.000 sampai dengan 250,000, tergantung pesanan dari konsumen. “Alhamdulillah dari usahanya ini, dirinya dapat menafkahi keluarganya dengan omset rata-rata 200.000 per harinya,” ujar Ujang. (infojambi.com/HRY)

Taman Shio, Asyik dan Unik diminati Anak 0

KOTAJAMBI - Kehadiran Taman Shio di sayap kiri Kelenteng Ceng Hong Lau (Suci Bersih), di Kelurahan Budiman Jambi Timur, cukup diminati anak-anak dan Ibu-ibu, sebagai tempat rekreasi dan pengenalan budaya shio pada anak.

Menurut Heyanto, pengurus Ceng Hong Lau, keberadaan Taman Shio tersebut merupakan pengembangan dari bangunan induk Kelenteng Ceng Hong Lau, yang berdiri sejak tahun 1986/1987. Pendirian taman shio, ujarnya, dimaksudkan untuk memperindah dan menambah wawasan bagi anak-anak akan budaya serta pengetahuan tentang shio seseorang.

Di taman shio itu terdapat 12 patung hewan yang mewakili 12 siklus tahunan dan setiap tahun di tandai dengan nama hewan atau "shio" sesuai dengan siklus yang berputar, Tikus, Kerbau, Macan, Kelinci, Naga, Ular, Kuda, Kambing, Monyet, Ayam, Anjing dan Babi.

Ny. Ayang, pengunjung, mengatakan, dirinya selalu mengajak anaknya ke taman shio seusai melakukan prosesi persembahyangan, dan biasanya dirinya menjelaskan makna dari simbol-simbol shio yang ada. Walau diakuinya, anaknya menyenangi taman shio karena banyak patung-patung hewan sebagai lambang shio yang ada.

Pantauan infojambi.com, kehadiran taman ini cukup unik dan asyik. Hanya saja saat ini, taman tersebut hanya dapat dinikmati kalangan umat Tri Dharma yang melakukan peribadatan di Kelenteng Ceng Hong Lau, dan belum terbuka untuk umum. (infojambi.com/HRY)

TARI KIPAS PARENTAK 3

Tari kipas adalah tari asli desa perentak kecamatan sungai manau Kabupaten merangin. Pencipta pertama kalinya tidak diketahui. Namun pada tahun 1967 ditata kembali oleh budayawan Kabupaten Merangin yaitu Ibu Nur'aini yang pada waktu menjabat sebagai guru SD No. 13 Kampung Tengah. Kemudian tari ini dikembangkan baik oleh Camat, Bupati kdh tingkat II Sarko pada thun 1971, dan akhirnya oleh Bapak Gubernur Admadibrata pada tahun 1973 tarian ditampilkan dan mendapat penghargaan.

Sinopsis :
Tarian ini bertema sebagai tarian pelepas lelah. Semula tarian ini dibawakan saat gotong - royong saat istirahat memanen padi. Fungsi tarian ini sebagai motivasi masyarakat sekaligus sebagai huburan untuk kalangan anak muda.

Nama Gerak Tari :
Gerak mengurai sayap berarti membersihkan diri usai bekerja.

Pakaian yang digunakan :
Kuluk tegendang rencong telan gatau kain tulisan Jambi, Baju belundru warna merah, warna hitam, warna ungu dan sebagainya, rompi kain songket, gelang berduri, subang di telingan dan ikat pinggang.

TARI MANGKU BARENTAK 0

Berasal dari desa muara siau kacamatan muara siau Kabupaten Merangin Propinsi Jambi yang sudah turun - temurun.

jumlah penari laki - laki 6 orang dengan berpakaian baju warna kuning dan memakai kain selempang serta memakai kain celana panjang warna abu - abu serta tangan tangan memegang cangkul. Perempuan berjumlah 6 orang berpakaian baju kebaya warna bunga dengan memakai songkok kepala serta memakai kain sarung dan memegang cangkul.

Wisata Bukit Bulan 4

Sajikan Keasrian Alam Nan Memikat, Kabupaten Sarolangun ternyata tidak hanya sebagai tempat awal bertapaknya sejarah perjuangan rakyat Jambi dengan lahirnya para pejuang-pejuang kemerdekaan yang namanya kental dan melekat di benak warga masyarakat bumi ‘‘Sepucuk Jambi Sembilan lurah”.

Ternyata bumi “Sepucuk Adat Serumpun Pseko” ini juga menyimpan potensi wisata yang bisa diandalkan dan menjadi “ikon” dunia kepariwisataan provinsi Jambi. Selain menyimpan potensi wisata sejarah perjuangan rakyat Jambi seperti keberadaan bangunan sejarah berupa jembatan yang melintas diatas alur sungai Batang Tembesi yang diresmikan oleh Ratu Belanda yaitu Ratu Betrix daerah yang menjadi tempat tanah kelahiran salah seorang pejuang rakyat Jambi yaitu Kolonel Abunjani ini juga menyimpan aset potensi keberagaman pariwisata yang tersebar hampir di setiap pelosok penjuru desa dalam setiap kecamatan yang ada.

Salah satu daerah yang menyimpan potensi aset pariwisata yang bisa menjadi “ikon” dunia kepariwisataan Jambi selain Bumi Sakti Alam Kerinci ada di Kecamatan Limun.

Keberagaman potensi aset pariwisata itu berupa keindahan panorama alam dengan terdapatnya lubang goa serta riak-riak aliran anak-anak sungai yang begitu alamiah, tentu mampu memanjakan siapa saja yang berkunjung ke desa Napal Melintang, desa Berkun, Lubuk Bedorong yang masuk dalam kecamatan Limun.

Untuk mencapai ke desa tersebut, kita harus menempuh perjalanan berjarak sekitar 75 KM atau memakan waktu sekitar 3 jam dari ibukota kabupaten dengan menggunakan kendaraan (mobil plus sepeda motor red).

Adrenalin siapapun yang berkeinginan mencapai daerah tersebut tentu akan terpacu saat mendaki tanjakan-tanjakan yang menyisiri bukit-bukit curam dengan kedalaman puluhan bahkan mungkin ratusan meter. Jika tidak ingin mengalami kecelakaan fatal kita tentunya harus berhati-hati.

sumber: http://wisata-jambi.blogspot.com

Balap Perahu Naga 0

Sungai Batanghari merupakan salah satu objek wisata andalan pemerintah Jambi untuk mendatangkan para wisatawan dari luar daerah. Sungai ini memiliki potensi wisata yang cukup banyak, terutama yang berhubungan dengan wisata olah raga sungai, seperti lomba perahu naga dan perahu tradisional.

Untuk itu, pemerintah Provinsi Jambi mengadakan lomba perahu naga dan perahu tradisional sebanyak 3 kali dalam satu tahun sebagai agenda rutin dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Jambi yang jatuh pada bulan Mei, HUT Provinsi Jambi yang jatuh pada bulan Januari dan HUT RI yang jatuh pada bulan Agustus.

Salah satu tujuan pelaksanaan lomba perahu naga dan perahu tradisional ini adalah untuk menjaring atlet-atlet yang akan diterjunkan pada event-event lomba tingkat nasional maupun internasional.

Sungai Batanghari sebagai tempat lomba perahu naga dan perahu tradisional, memiliki sisi yang lebar, lajur yang datar, air yang tenang dan kedalaman beberapa meter. Hal tersebut memberi kenyamanan, keleluasaan sekaligus tantangan bagi seluruh peserta dalam memacu perahu.

Untuk lomba perahu naga dan perahu tradisional, para peserta bisa mengikuti beberapa variasi lomba yang dipertandingkan. Jenis perlombaan yang dipertandingkan di Sungai Batanghari Jambi meliputi beberapa ketegori, seperti: lomba perahu tradisional tipe A, lomba perahu tradisional tipe B dan lomba perahu naga. Sedangkan jarak yang dipertandingkan meliputi: 250 m, 500 m dan 1000 m.

Lokasi dan Waktu Pelaksanaan

Lomba perahu naga dan perahu tradisional diadakan di Sungai Batanghari, dengan start dimulai dari Taman Talago Rajo yang berada di Kecamatan Pasar Jambi, Kota Jambi, Provinsi Jambi, Indonesia.

Adapun waktu pelaksanaannya 3 kali dalam setahun, yaitu: pada bulan Mei yang bertepatan dengan HUT Kota Jambi; bulan Januari yang bertepatan dengan HUT Provinsi Jambi dan pada bulan Agustus yang bertepatan dengan HUT RI.

Akses

Lomba perahu naga dan perahu tradisional yang diadakan di Sungai Batanghari persis berada di pusat Kota Jambi. Bagi para wisatawan yang datang dari luar Kota Jambi dapat dengan mudah mencapai lokasi dengan menggunakan angkutan umum, mobil sewaan atau mobil pribadi dengan waktu tempuh sekitar 30 menit dari Bandara Sulthan Thaha Syaifuddin.

Batu Larung & Gading Bertuah 0

Batu Larung

Batu Larung adalah salah satu peninggalan kuno yang hingga saat ini masih sering dikunjungi oleh oleh para wisatawan dan para arkeolog yang ingin meneliti lebih lanjut. Batu ini diukir seperti Gong dan bergaris-garis bentuknya bulat panjang sekitar 3 meter, lingkarannya 1 ½ meter.

Lokasi keberadaan Batu Larung ini terletak sekitar 300 meter dari Pinggiran Jalan Desa Tuo. Sedangkan untuk jarak tempuh dari Kota Bangko dengan menggunakan kendaraan ±76 km.

Gading Bertuah

Temuan benda kuno berupa gading gajah ini terdapat di Kecamatan Sungai Manau. Gading ini berwarna kuning kehitam-hitaman dengan panjang + 1,5 m berdiameter 10 cm, berat 50 Kg dan berumur +750 tahun.

Prasasti Batu Bertulis Karang Berahi 0

Batu bertulis ini merupakan peninggalan sejarah yang terdapat di Desa Karang Berahi, Kecamatan Pamenang 25 Km dari Kota Bangko. Batu bertulis ini menggunakan tulisan Sanskerta berbahasa Melayu Kuno dan dibuat sekitar tahun 686 Masehi.

Menyimak perjalanan bukti sejarah Batu Bertulis ini sejak ditemukan pertama kali pada tahun 1904 oleh L. BERKHOUT seorang Kontrolir Belanda di Bangko.

Sungguh mengagumkan besarnya perhatian para Sejarahwan dan Arkeologi diantaranya Tim R. SOEKMONO pada tahun 1954 dan 1973 oleh Lembaga Purbakala dan Peninggalan Sejarah Nasional dengan THE UNIVERSITY OF PENSYLVANIA, USA.

Prasasti yang berbahasa Melayu ini berisikan kutukan terhadap siapa yang berani merusak satu prasasti.

Melihat pada lokasi Batu Bertulis Karang Berahi, merupakan Objek wisata yang sangat berkesan untuk dinikmati, karena disamping pembuktian sejarah masa lalu ditempat ini para wisatawan juga dapat menikmati naik perahu atau bersampan di Sungai Merangin.

Misteri Kerinci (Manusi Kerdil) 0

Senin, 14 Maret 2005 Antropolog Rusia Tinggalkan Indonesia (JAKARTA) — Mereka keluar dari Indonesia membawa bukti-bukt penelitian, termasuk foto-foto. Misteri penemuan manusia kerdil di Taman Nasional Kerinci Seblat, Sumatra Barat (Termasuk juga ke dalam Kab. Kerinci Provinsi Jambi), dua pekan lalu tampaknya sulit terungkap. Helen von Sternberg dan Oleg Aligev, dua peneliti asal Rusia yang menemukan sang ‘Hobbit’, dikabarkan telah meninggalkan Indonesia.

Keduanya membawa pergi banyak informasi penting, termasuk foto-foto spesies unik itu ke negerinya.

Padahal, mengacu etika akademik, semestinya mereka melaporkan terlebih dahulu temuan menarik itu ke Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Kepala Pusat Penelitian Pranata Pembangunan Universitas Indonesia (UI), S Budi Santoso, menyatakan bahwa pihaknya sempat meminta untuk mencegat kedua warga Rusia itu di Bandara Soekarno Hatta. Sterenberg dan Aligev sebelumnya berjanji menunjukkan foto-foto hasil temuannya itu. ”Sayangnya mereka malah pergi,” katanya.

Informasi penemuan manusia kerdil itu, kata Budi, berawal dari kedatangan Strenberg dan Aligev untuk berkonsultasi kepadanya, Rabu (2/3), tepatnya dua pekan lalu. Mereka mengaku telah menemukan satu spesies unik di daerah Kerinci Seblat dan ingin menggali informasi lebih banyak. ”Mereka langsung datang dari Kerinci dan datang ke kantor saya,” tutur Budi kepada Republika, pekan silam.

Dari penuturan keduanya, Budi menduga spesies unik itu adalah manusia sedepa, sejenis manusia berperawakan kerdil yang sejak lama menjadi mitos di daerah Kerinci Seblat. Ciri-ciri spesies ini, seperti dituturkan peneliti Rusia tadi, antara lain berukuran tubuh kecil (tinggi badan kurang dari 100 cm), kulit wajah halus tanpa kumis, dan tidak memiliki lekukan di bagian bawah mulutnya. Diduga manusia kerdil ini masih berumur sangat muda.

Kedua warga Rusia ini mengaku menemukan manusia kerdil ini bersama penduduk setempat. Sang ‘Hobbit’ langsung mati ketika ditangkap. ”Kemungkinan ia mengalami shock,” kata Budi. Hingga kini belum diperoleh informasi terbaru soal jasad si manusia kerdil.

Helen von Strenberg, terang Budi, merupakan antropolog asal Rusia. Sementara, Oleg Aligev adalah fotografer profesional yang bekerja untuk Ute Megapolog Group. Mulanya, Strenberg dan Aligev berencana menunjukkan gambar-gambar sang ‘Hobbit’. ”Namun, mereka lupa membawanya dan berjanji menunjukkan di lain waktu,” kata Budi. Sebenarnya, pada Jumat (4/3) lalu dijadwalkan pertemuan kembali dengan kedua warga Rusia itu di Balai Arkeologi Nasional. Sayangnya, mereka tidak muncul.

Kepergian kedua warga Rusia ini dibenarkan oleh koresponden kantor berita Rusia TASS, Igor Zuev. Igor adalah pihak yang menampung kedua warga Rusia itu selama di Jakarta. Menurut Igor, keberangkatan Strenberg dan Aligev ke Rusia lantaran jadwal mereka yang cukup padat.

Igor membenarkan informasi penemuan manusia kerdil tersebut. Ia kini sedang mencoba merangkum data-data tambahan dari para pakar di Indonesia dan belum menuliskan berita soal itu. ”Sekarang saya juga sedang menunggu email berupa foto-foto spesies tadi (dari Strenberg dan Aligev),” tutur Igor saat dihubungi Republika, Ahad (13/3). Menurutnya, foto-foto tadi telah menjadi hak cipta para peneliti Rusia ini. Kini mereka tengah mendalami temuan tersebut di Rusia.

Jika benar, penemuan ‘manusia sedepa’ ini terbilang cerita cukup menarik. Belum genap setengah tahun dunia paleoantropologi dikejutkan dengan penemuan fosil manusia kerdil di Flores, NTB (Homo floresiensis).

Manusia sedepa sejauh ini cuma menjadi mitos bagi penduduk di barat dan utara Sumatra. Sang manusia kerdil dikabarkan pernah ditangkap oleh raja Aceh lebih dari seratus tahun lalu di daerah Gunung Leuser, Aceh. Banyak peneliti dalam dan luar negeri yakin Indonesia merupakan surga bagi spesies-spesies manusia unik yang bersembunyi di belantara Nusantara. Manusia sedepa atau Homo floresiensis barangkali cuma salah satunya.

Beberapa tahun lalu, misalnya, sempat terbetik kabar penemuan manusia kerdil di daerah Taman Nasional Meru Betiri (TNMB), Jember, Jawa Timur. Tinggi manusia kerdil itu diperkirakan 80 cm dengan panjang telapak kaki dari tumit hingga ibu jari sekitar 9,7 cm dan lebar tapak kaki 3,2 cm. Penduduk setempat menamainya si Siwil. Makhluk kerdil ini dilaporkan senang mengambil ikan milik nelayan.

Orang Pendek

Mungkin teman-teman pernah membaca kisah mengenai makhluk yang satu ini di beberapa majalah maupun surat kabar, karena lumayan banyak yang sudah mengulasnya. Orang pendek ialah nama yang diberikan kepada seekor binatang (manusia?) yang sudah dilihat banyak orang selama ratusan tahun yang kerap muncul di sekitar Taman Nasional Kerinci Seblat, Sumatera. Walaupun tak sedikit orang yang pernah melihatnya, keberadaan orang pendek hingga sekarang masih merupakan teka-teki. Tidak ada seorangpun yang tahu, sebenarnya makhluk jenis apakah yang sering disebut sebagai orang pendek itu. Tidak pernah ada laporan yang mengabarkan bahwa seseorang pernah menangkap atau bahkan menemukan jasad makhluk ini, namun hal itu berbanding terbalik dengan banyaknya laporan dari beberapa orang yang mengatakan pernah melihat makhluk tersebut. Sekedar informasi, Orang pendek ini masuk kedalam salah satu studi Cryptozoolgy, begitulah yang saya dapatkan dari beberapa sumber. Ekspediasi pencarian Orang Pendek sudah beberapa kali di lakukan di Kawasan Kerinci, Salah satunya adalah ekspedisi yang didanai oleh National Geographic Society. National Geographic sangat tertarik mengenai legenda Orang Pendek di Sumatera, beberapa peneliti telah mereka kirimkan kesana untuk melakukan penelitian mengenai makhluk tersebut.

Sejauh ini, para saksi yang mengaku pernah melihat Orang Pendek menggambarkan tubuh fisiknya sebagai makhluk yang berjalan tegap (berjalan dengan dua kaki) tinggi sekitar satu meter (diantara 85 cm hingga 130 cm) dan memiliki banyak bulu diseluruh badan. Bahkan tak sedkit pula yang menggambarkannya dengan membawa berbagai macam peralatan berburu, seperti semacam tombak. Keberadaan Orang Pendek sudah terlalu lama terdengar sejak berabad-abad lalu, sehingga hal itu menjadikannya sebagai salah satu legenda masyarakat disana. Dari ekspedisi yang beberapa kali di lakukan, umumnya ada suatu studi kasus mengenai klasifikasi pembagian saksi mata. Pertama saksi dari suku anak dalam, yaitu sekelompok orang yang tinggal disekitar areal Taman Nasional. Kemudian ada beberapa kelompok saksi mata dari orang desa lokal, kemudian beberapa kesaksian dari warga pendatang (Belanda) pada awal abad ke-20.

Legenda Mengenai Orang Pendek sudah secara turun temurun dikisahkan di dalam kebudayaan masyarakat Suku anak dalam. Mungkin bisa dibilang, Suku anak dalam sudah terlalu lama berbagi tempat dengan para Orang Pendek di kawasan tersebut. Walaupun demikian, jalinan sosial diantara mereka tidak pernah ada. Sejak dahulu suku anak dalam bahkan tidak pernah menjalin kontak langsung dengan makhluk-makhluk ini, mereka memang sering terlihat, namun tak pernah sekalipun warga dari suku anak dalam dapat mendekatinya. Ada suatu kisah mengenai keputus asaan para suku anak dalam yang mencoba mencari tahu identitas dari makhluk-makhluk ini, mereka hendak menangkapnya namun selalu gagal. Pencarian lokasi dimana mereka membangun komunitas mereka di kawasan Taman Nasioanal juga pernah dilakukan, namun juga tidak pernah ditemukan.

Awal tahun 1900-an, dimana saat itu Indonesia masih merupakan jajahan Belanda, tak sedikit pula laporan datang dari para WNA. Namun yang paling terkenal adalah Kesaksian Mr. Van Heerwarden di tahun 1923. Mr. Van Heerwarden adalah seorang zoologiest, dan disekitar tahun itu ia sedang melakukan penelitian di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat.
Pada suatu catatan kisahnya, ia menuliskan mengenai pertemuannya dengan beberapa makhluk gelap dengan banyak bulu di badan. Tinggi tubuh mereka ia gambarkan setinggi anak kecil berusia 3-4 tahun, namun dengan bentuk wajah yang lebih tua dan dengan rambut hitam sebahu. Mr. Heerwarden sadar mereka bukan sejenis siamang maupun perimata lainnya. Ia tahu makhluk-makhluk itu menyadari keberadaan dirinya saat itu, sehingga mereka berlari menghindar. Satu hal yang membuat Mr. Heerwarden tak habis pikir, semua makhluk itu memiliki persenjataan berbentuk tombak dan mereka berjalan tegak. Semenjak itu, Mr. Heerwarden terus berusaha mencari tahu makhluk tersebut, namun usahanya selalu tidak berbuah hasil.

Sumber-sumber dari para saksi memang sangat dibutuhkan bagi para peneliti yang didanai oleh National Gographic Society untuk mencari tahu keberadaan Orang Pendek. Dua orang peneliti dari Inggris, Debbie Martyr dan Jeremy Holden sudah lama mengabadikan dirinya untuk terus menerus melakukan ekspedisi terhadap eksistensi Orang Pendek. Namun, sejak pertama kali mereka datang ke Taman Nasional Kerinci di tahun 1990, sejauh ini hasil yang didapat masih jauh dari kata memuaskan. Lain dengan peneliti lainnya, Debbie dan Jeremy datang ke Indonesia dengan dibiayai oleh Organisasi Flora dan Fauna Internasional (http://fauna-flora.org). Dalam ekspedisi yang dinamakan “Project Orang Pendek” ini, mereka terlibat penelitian panjang disana. Secara sistematik, usaha-usaha yang mereka lakukan dalam ekspedisi ini antara lain adalah pengumpulan informasi dari beberapa saksi mata untuk mengetahui lokasi-lokasi di mana mereka sering dikabarkan muncul. Kemudian ada metode menjebak pada suatu tempat dimana disana terdapat beberapa kamera yang selalu siap untuk menangkap aktivitas mereka. Rasa putus asa dan frustasi selalu menghinggap di diri mereka ketika hasil ekspedisi selama ini belum mendapat hasil yang memuaskan.

Hubungan Kekerabatan Yang Hilang Beberapa pakar Cryptozoology mengatakan bahwa Orang Pendek mungkin memiliki hubungan yang hilang dengan manusia. Apakah mereka merupakan sisa-sisa dari genus Australopithecus?
Banyak Paleontologiest mengatakan bahwa jika anggota Australopithecus masih ada yang bertahan hidup hingga hari ini, maka mereka lebih suka digambarkan sebagai seekor siamang. Pertanyaan mengenai identitas Orang Pendek yang banyak dikaitkan dengan genus Australopitechus ini sedikit pudar dengan ditemukannya fosil dari beberapa spesies manusia kerdil di Flores beberapa waktu yang lalu. Fosil manusia-manusia kerdil “Hobbit” berjalan tegak inilah yang kemudian disebut sebagai Homo Floresiensis. Ciri-ciri fisik spesies ini sangat mirip dengan penggambaran mengenai Orang Pendek, dimana mereka memiliki tinggi badan tidak lebih dari satu seperempat meter, berjalan tegak dengan dua kaki dan telah dapat mengembangkan perkakas/alat berburu sederhana serta telah mampu menciptakan api. Homo Floresiensis diperkirakan hidup diantara 35000 - 18000 tahun yang lalu.

Apakah Orang Pendek benar-benar merupakan sisa-sisa dari Homo Floresiensis yang masih dapat bertahan hidup? Secara jujur, para peneliti belum dapat menjawabnya.
Peneliti mengetahui bahwa setiap saksi mata yang berhasil mereka temui mengatakan lebih mempercayai Orang Pendek sebagai seekor binatang. Debbie Martyr dan Jeremy Holden, juga mempertahankan pendapat mereka bahwa Orang Pendek adalah seekor siamang luar biasa dan bukan hominid.

Referensi:

*Allen, Benedict. Hunting the Gugu. Faber and Faber
*Newton, Michael. Encyclopedia of Cryptozoology: A Global Guide to Hidden Animals and Their Pursuers

Penemu Naskah Undang-Undang Zaman Adityawarman Oleh: Syofiardi Bachyul Jb/PadangKini.com

ULI Kozok, doktor filologi asal Jerman, telah mengejutkan dunia penelitian bahasa dan sejarah kuno Indonesia. Lewat temuan sebuah naskah Malayu kuno di Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi yang ia lihat pertama kali di tangan penduduk pada 2002, ia membantah sejumlah pendapat yang telah menjadi pengetahuan umum selama ini.

Pendapat pertama, selama ini orang beranggapan naskah Malayu hanya ada setelah era Islam dan tidak ada tradisi naskah Malayu pra-Islam. Artinya, dunia tulis-baca orang Malayu diidentikkan dengan masuknya agama Islam di nusantara yang dimulai pada abad ke-14.

“Naskah Undang-Undang Tanjung Tanah” yang ditemukan Kozok merupakan naskah pertama yang menggunakan aksara Pasca-Palawa dan memiliki kata-kata tanpa ada satupun serapan ‘berbau’ Islam.

Berdasar uji radio karbon di Wellington, Inggris naskah ini diperkirakan dibuat pada zaman Kerajaan Adityawarman di Suruaso (Tanah Datar, Sumatera Barat) antara 1345 hingga 1377. Naskah ini dibuat di Kerajaan Dharmasraya yang waktu itu berada di bawah Kerajaan Malayu yang berpusat di Suruaso. Karena itu Kozok mengumumkan naskah tersebut sebagai naskah Malayu tertua di dunia yang pernah ditemukan.

“Ada pakar sastra dan aksara menganggap tidak ada tradisi naskah Malayu sebelum kedatangan Islam, ada yang beranggapan Islam yang membawa tradisi itu ke Indonesia, dengan ditemukannya naskah ini teori itu runtuh,” kata Kozok yang bertemu Padangkini.com di Siguntur, Kabupaten Dharmasraya pengujung Desember 2007.

Aksara Sumatera Kuno

Pendapat kedua, seperti halnya Jawa, Sumatera sebenarnya juga memiliki aksara sendiri yang merupakan turunan dari aksara Palawa dari India Selatan atau aksara Pasca-Palawa. Selama ini aksara di sejumlah prasasti di Sumatera, seperti sejumlah prasasti-prasasti Adityawarman, disebut para ahli sebagai aksara Jawa-Kuno.

Padahal, menurut Kozok, aksara itu berbeda. Seperti halnya di Jawa, di Sumatera juga berkembang aksara Pasca-Palawa dengan modifikasi sendiri dan berbeda dengan di jawa yang juga bisa disebut Aksara Sumatera-Kuno.

Prasasti-prasasti peninggalan Adityawarman di Sumatera Barat, menurutnya, sebenarnya aksara Pasca-Palawa Sumatera-Kuno, termasuk yang digunakan pada Naskah Undang-Undang Tanjung Tanah dengan perbedaan satu-dua huruf. Namun selama ini prasasti-prasasti itu disebut ahli yang umumnya berasal dari Jawa sebagai aksara Jawa-Kuno.

“Mereka punya persepsi bahwa Sumatera itu masih primitif dan orang Jawa yang membawa peradaban, begitulah gambaran secara kasar yang ada dibenak mereka, karena mereka peneliti Jawa, sehingga ketika mereka datang ke Sumatera dan melihat aksaranya, menganggap aksara Sumatera pasti berasal dari Jawa, nah sekarang kita tahu bahwa kemungkinan aksara itu duluan ada di Sumatera daripada di Jawa,” katanya.

Pendapat ketiga, kerajaan Malayu tua pada zaman Adityawarman telah memiliki undang-undang tertulis yang detail. Undang-undang ini dikirimkan kepada raja-raja di bawahnya. Selama ini belum pernah ada hasil penelitian yang menyebutkan Kerajaan Malayu Kuno memiliki undang-undang tertulis.

Pendapat keempat, dengan ditemukannya “Naskah Undang-Undang Tanjung Tanah” selangkah lagi terkuak informasi mengenai Kerajaan Dharmasraya, Adityawarman, dan Kerajaan Malayu yang beribukota di Suruaso (Tanah Datar). Naskah tersebut menyebutkan bahwa Kerajaan Malayu beribukota Suruaso yang dipimpin oleh Maharaja Diraja, di bawahnya Dharmasraya yang dipimpin Maharaja, dan di bawah Dharmasraya adalah Kerinci yang dipimpin Raja.

“Meski begitu saya yakin kekuasaan Suruaso dan Dharmasraya terhadap Kerinci hanya secara ‘de jure’ (hukum-red) dan bukan ‘de facto’ (kekuasaan), sebab Kerinci waktu itu tetap memiliki kedaulatannya sendiri, hubungannya lebih kepada perekonomian karena Kerinci penghasil emas dan pertanian,” kata Kozok.

Terkenang Kebaikan Bupati Kerinci

Uli Kozok (nama lengkapnya Ulrich Kozok) lahir di Hildesheim, Niedersachsen, Jerman pada 26 Mei 1959. Lelaki berkebangsaan Jerman dan permanent resident di New Zealand dan USA ini, pernah menjadi dosen di Universitas Auckland pada 1994-2001. Kini sejak 2001 menjadi Assosiate Professor, Department of Hawaiian and Indo-Pacific Languages an Literatures di University of Hawai’I di Manoa, USA.

Sebelum meneliti naskah kuno Kerinci, Kozok yang fasih bahasa Indonesia dan Batak ini bertahun-tahun mempelajari bahasa, budaya, dan sastra Batak. Bahkan lelaki yang kawin dengan dengan perempuan asal Batak Karo dan memiliki dua anak ini, meraih meraih gelar MA pada 1989 dan PhD pada 1994 dari University of Hamburg dengan tesis dan disertasi tentang bahasa Batak.

Tiga bukunya dalam bahasa Indonesia tentang bahasa Batak pernah diterbitkan tiga penerbit di Indonesia pada 1999 dan 2005.

Pengalaman di Kerinci menyimpan kenangan tersendiri bagi Kozok atas keramahan pejabat dan masyarakatnya. Seorang koleganya di Universitas Auckland memperkenalkan dengan seorang tokoh masyarakat Kerinci mantan anggota DPRD bernama Sutan Kari.

Ketika pada 1999 Kozok berkunjung ke Kerinci dan dipertemukan dengan Bupati Fauzi Siin untuk tujuan penelitian aksara Kerinci, sang bupati mengatakan penelitian itu sangat penting dan membantunya sepenuh hati.

“Ia menanyakan persiapan saya di Kerinci, di mana menginap dan bagaimana transportasinya karena mesti ke kampung-kampung, saya katakan belum saya pikirkan, lalu diambilnya kunci mobilnya di saku dan dilemparkan ke saya, ini mobilnya, katanya, Bupati juga membayar penginapan, saya sangat mendapat sambutan yang luar biasa,” kenang Kozok.

Pada 2002 ia kembali ke Kerinci untuk melanjutkan penelitian terhadap naskah-naskah lama yang ditulis dalam aksara Kerinci. Ketika hendak pulang dari melihat naskah yang disimpan masyarakat di Sungai Penuh, ibu Kabupaten Kerinci, ia mengatakan kepada Sutan Kari selama di Kerinci tidak pernah melihat naskah dari kulit kayu yang umumnya di Batak. Sutan Kari mengatakan ada satu di Tanjung Tanah, sebuah desa di tepi Danau Kerinci.

“Hari itu karena sudah sore, kami ke sana dan kebetulan yang menyimpan naskah itu seorang guru sekolah, walaupun melihat naskah itu harus ada syarat segala macam, dia turunkan dan diperlihatkan kepada saya, saya buat foto,” katanya.

Naskah yang ditulis di kertas yang terbuat dari kayu daluang itu disimpan dalam periuk dari tanah yang juga mungkin usianya sudah ratusan tahun. Di dalam periuk itu masih ada kain dan baju yang sudah sangat kuno. Benda yang dijadikan pusaka itu dibalut dengan kain, dimasukkan dalam periuk, periuk disimpan dalam kardus dan ditaruh di loteng.

Banyak yang Tak Percaya

Bermula dari situ, Kozok menelitinya. Kemudian mengirim email kepada beberapa kolega mengatakan kemungkinan naskah tersebut berasal dari abad ke-14.

“Mereka semua menjawab; lupaklanlah, itu mustahil, tidak mungkin ada bahan yang bisa bertahan begitu lama, jadi mereka itu sangat tidak percaya, ada yang percaya tetapi kebanyakan tidak percaya,” katanya.

Karena sangat yakin, Kozok kembali ke Kerinci selama Mei 2003, lalu meminta sedikit sampel kertas kulit kayu sebanyak tersebut untuk dikirim ke Rafter Radiocarbon Laboratory di Wellington. Lembaga ini kemudian memberitahukan bahwa umur naskah Tanjung Tanah lebih dari 600 tahun.

“Sesuai data sejarah yang saya kumpulkan, saya sampai pada kesimpulan bahwa kemungkianan besar naskah itu berasal dari paruh kedua abad ke-14, dan hasil radiokarbon itu pas sekali, perkiraan saya tidak meleset, itu aksara kuno yang bentuknya masih mirip aksara Palawa dari India Selatan tapi sudah sangat Sumatera, aksara itu hampir sama yang digunakan di Minitujuh Aceh, sampai ke Lampung, aksara itu digunakan pada abad itu,” katanya.

Sebenarnya naskah Tanjung Tanah pernah dicatat sebagai salah satu daftar naskah kuno Kerinci oleh Petrus Voorhoeve, pegawai bahasa Zaman Kolonial Belanda pada 1941 sebagai tambo Kerinci dan disimpan di perpustakaan Koninklijk Instituut voor de Taal, Land, en Volkenkunde (KILV) di Leiden, Belanda.

Di perpustakaan itu ada foto naskah tersebut tapi kurang baik. Voorhoeve menuliskan laporan tentang naskah yang disebutnya sebagian beraksara rencong, dan halaman lainnya beraksara Jawa Kuno. Namun tidak sampai pada kesimpulan.

Undang-Undang dari Dharmasraya

Transliterasi dan terjemahan naskah 34 halaman itu dilakukan sejumlah ahli yang dikoordinasi oleh Yayasan Naskah Nusantara (Yanassa). Ternyata naskah tersebut berisi undang-undang yang dibuat di Dharmasraya (sekarang tepatnya di tepi Sungai Batanghari di Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat) yang diberikan kepada masyarakat Kerinci.

Dharmasraya waktu itu adalah pusat Kerajaan Malayu beragama Hindu-Buddha di bawah pemerintahan tertinggi di Saruaso (Tanah Datar) dengan raja Adityawarman. Tulisan tentang naskah kuno ini telah diterbitkan dalam bahasa Indonesia berjudul Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah, Naskah Malayu yang Tertua (Yayasan Obor Indonesia: 2006). Edisi sebelumnya dalam bahasa Inggris The Tanjung Tanah Code of Law: The Oldest Extant Malay Manuscript ( Cambridge: St Catharine’s College and the University Press: 2004).

Uli Kozok pernah mengikutkan kopian Naskah Tanjung Tanah pada pameran di Singapura 18 Januari hingga 30 Juni 2007 dalam pameran bertajuk “Aksara: The Passage of Malay Scrips-Menjejaki Tulisan Melayu“.

Sebelumnya di Malaysia Naskah Tanjung Tanah diseminarkan di University of Malaya, Kuala Lumpur dalam acara Tuanku Abdul Rahman Conference, 14-16 September 2004. Saat itu Uli Kozok menyerahkan buku Tanjung Tanah Code of Law terbitan Cambridge University kepada Perdana Menteri Malaysia.

“Mereka (Bupati dan masyarakat Kerinci-red) sudah sangat baik budi kepada saya, dan sekarang… ya mudah-mudahan saya bisa membantu Kerinci sedikit, mempopulerkan daerahnya, sebagaimana orang Malayu bilang… untuk membalas budi, sekarang perhatian ilmuwan dari mancanegara sudah banyak terhadap Kerinci sebagai daerah ditemukan naskah malayu yang tertua,” katanya.***

sumber : kerinci.info

Danau Sigombak 0

Sigombak adalah suatu nama objek wisata danau yang terletak di desa Jambu Kecamatan Tebo Ulu, 30 KM dari kota Muaratebo kabupaten Tebo, atau sekitar 250 KM dari Kota Jambi, Indonesia. Letak Danau Sigombak juga hanya berkisar sekitar 4o KM dari Kota Bungo dan Sekitar 80 KM dari Kabupaten Darmasraya, Provinsi Sumatera Barat atau sekitar 300 KM dari Kota Padang. Danau Sigombak juga hanya berjarak sekitar 100 KM dari perbatasan Tebo-Riau.

Danau Sigombak memiliki potensi sebagai objek wisata alam di Kabupaten Tebo dan Provinsi Jambi. Karena Sigombak memiliki luas mencapai 45 hektar dengan sebuah pulau seluas 15 Hektar yang terletak ditengah danau. Secara Geografis, Sigombak memiliki keunikan lain karena bisa dinikmati dari atas bukit dan dari bagian bawah danau. Disekeliling danau, masih dilingkupi suasana alam yang natural. seperti pohon beringin dan pohon lainnya.

Dari sisi budaya, danau Sigombak mengandung cerita legenda masa lampau. Konon danau Sigombak merupakan tempat mandi raja-raja zaman dahulu. Danau Sigombak juga dikaitkan dengan beberapa cerita masa lalu yang sampai saat sekarang belum tergali. Didaerah lain sekitar danau, juga banyak ditemukan candi-candi peninggalan sejarah serta makam-makam kuno. Lagi-lagi, peninggalan sejarah itu belum dikelola dan digali secara baik. parahnya, sekarang tokoh-tokoh sejarah yang memiliki pengetahuan tentang danau Sigombak tidak diketemukan lagi.
Danau Sigombak memiliki potensi sebagai objek wisata alam di Kabupaten Tebo dan Provinsi Jambi. Karena Sigombak memiliki luas mencapai 45 hektar dengan sebuah pulau seluas 15 Hektar yang terletak ditengah danau. Secara Geografis, Sigombak memiliki keunikan lain karena bisa dinikmati dari atas bukit dan dari bagian bawah danau. Disekeliling danau, masih dilingkupi suasana alam yang natural. seperti pohon beringin dan pohon lainnya.

Walaupun menyebutkan Sigombak sebagai objek wisata, hingga sekarang, pemerintah Provinsi Jambi dan Pemkab Tebo belum melakukan pembangunan yang berarti untuk mengembangkan potensi wisata alam itu. Sampai tahun 2008, baru sebuah dermaga sebagai tempat peristirahatan yang dibangun didanau Sigombak. Keterbatasan anggaran pemerintah dan faktor pembangunan prioritas menyebabkan pembangunan objek wisata berjalan lambat. Memang sektor parisiwisata belum menjadi andalan bagi Provinsi Jambi apalagi Kabupaten Tebo. (dibuktikan dengan banyaknya candi-candi peninggalan sejarah peninggalan kerajaan hindu dan Budha yang belum dipugar, walaupun ada yang telah dipugar, tidak terawat…!

Sekarang, karena belum tergarap (namun) terus dipromosikan, Sigombak setiap hari selalu dikunjungi. Pengunjung yang kebanyakan generasi muda itu memanfaatkan lokasi danau pacaran yang beberapa diantaranya berakhir dengan perbuatan mesum. Karena itu, tokoh masyarakat mulai menentang keberadaan objek wisata danau didesa mereka.

sumber: http://mamas86.wordpress.com

Pulau Berhala 0

Pulau Berhala yang terletak di Selat Berhala tak bisa dilepaskan dari simbol kebesaran Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Pulau yang terdiri dari gugus tiga pulau kecil dengan luas sekitar 0,25 hektar sampai 0,5 hektar mengelilinginya. Air lautnya biru dan jernih. Pantainya yang landai dilapisi oleh hamparan pasir berwarna putih bersih dan pada beberapa tempat berbatu. Untuk mendapatkan air tawar yang segar dan tidak berbau cukup dengan menggali sumur yang berjarak 10-15 meter dari bibir pantai.

Sumber daya alam yang dimiliki oleh pulau yang sempat berstatus quo karena diperebutkan oleh provinsi Jambi dan provinsi Riau ini adalah perikanan dari laut yang mengelilinginya. Selain itu adalah pariwisata bahari, seperti memancing, menyelam, dan berlayar, karena keindahan pantai dan air lautnya yang biru. Khusus untuk kepentingan pariwisata bahari, Pulau Berhala memerlukan penataan, sentuhan, dan pembangunan berbagai fasilitas. Seperti sarana transportasi laut, dermaga, sarana komunikasi, pondok wisata, dan sebagainya. Sebagian besar dari luas pulau yang 200 hektar ini merupakan wilayah kosong, berbatu, dan pasir kuarsa. Pada beberapa bagian hanya ada sedikit pohon kelapa.

Untuk bisa sampai ke tempat ini bisa ditempuh dengan kapal feri cepat atau speed boat dari Kota Kuala Tungkal, Tanjung Jabung Barat. Dengan lama perjalanan lebih kurang dua jam perjalanan kita sudah sampai di pulau ini. Alternatif lain menuju Berhala adalah dari Muara Sabak. Jarak tempuh BBerhala dari Muara Sabak sekitar satu setengah jam. Jarak terdekat adalah dari Nipah Panjang, cuma membutuhkan waktu tempuh lebih kurang 45 menit perjalanan. Atau jika kita berangkat dari Desa Sungai Itik, Tanjung Jabung Timur, waktu tempuhnya menjadi lebih pendek lagi, cukup 15 menit saja dengan mengendarai pompong.

Meskipun letaknya di tengah-tengah lautan, jangan khawatir jika berkunjung ke pulau ini. Sebab seperti disebutkan di atas, jarak tempuh Berhala dari Desa Sungai Itik hanya seperempat jam saja. Artinya segala kebutuhan sehari-hari bisa diperoleh dari desa ini dengan harga yang tidak jauh beda dengan harga di supermarket atau pusat perbelanjaan.
Perairan sekitar Pulau Berhala sangat kaya dengan berbagai jenis ikan permukaan dan ribuan jenis ikan hias. Cocok untuk kegiatan memancing dan penangkapan ikan oleh nelayan. Di pulau ini bamyak dibuat keramba besi untuk menampung ikan hasil tangkapan nelayan sebelum dijual agar harganya tidak jatuh.

Sarana transportasi menuju Berhala pada saat ini memang sangat terbatas. Namun ke depan diharapkan ada kapal feri yang melakukan pelayaran wisata minimal satu kali satu minggu. Jika ini terpenuhi maka penduduk Provinsi Jambi yang umumnya jauh dari pantai, kini memiliki sarana untuk rekreasi ke laut, mengikuti pelayaran wisata bahari.

Selain Berhala, sebutan lain untuk pulau ini adalah Pulau Hantu. Sebutan ini khususnya disebutkan oleh orang melayu Jambi. Mitos ini tentu saja cukup menakutkan bagi para pelaut dan nelayan yang ingin singgah maupun melintas disana, bahkan pelaut dan pedagang dari timur tengah juga menamainya sebagai pulau Dakjal. Entah apa yang melatar-belakangi, sehingga muncul mitos yang berbau sinis tersebut, bahkan hingga kini sebagian masyarakat masih menganggapnya sebagai pulau yang masih banyak diliputi misteri.


Konon dikatakan, Pulau Berhala disebut sebagai pulau putusan dari Tanjung Jabung. Pada masa itu dipercayai orang dapat menempuh Pulau Berhala dari Tanjung Jabung hanya dengan berjalan kaki, karena dalamnya air laut hanya sebatas lutut. Terlepas dari itu, memang secara historis berdasarkan bukti sejarah yang dituturkan dalam naskah kuno raja-raja Jambi, keberadaan Pulau Berhala atau pulau “Afgod” kata orang Belanda, disebut sebagai awal sejarah kebudayaan Melayu Islam di Jambi. Di mana pada akhir abad ke sebelas masehi, Ahmad Barus salah seorang dari dua putra sultan Turki menetap di pulau tersebut yang kemudian dikenal dengan sebutan Datuk Paduka Berhalo, yang akhirnya menjadi raja di Jambi setelah mengawini raja perempuan bernama Tuan Putri Selero Pinang Masak. Selanjutnya dari hasil perkawinan tersebut lahirlah raja Jambi yang termashur bernama Orang Kayo Hitam.

Dari perkawinan ini pula diceritakan dalam buku sejarah Jambi, telah mengantarkan Jambi menuju lembaran baru yang sangat berarti terutama bagi perkembangan sejarah Islam Jambi dan dapat dikatakan sebagai proses awal dari munculnya kebudayaan melayu di Jambi.

Memiliki luas sekitar 200 hektar dan dihuni 13 kepala keluarga atau 40 jiwa yang terdiri dari para nelayan, pulau Berhala berada di sebelah utara Kabupaten Tanjung Jabung Timur, dan berbatasan langsung dengan Laut Cina Selatan.
Dengan menggunakan kapal motor air yang berkekuatan 35 PK, dengan jarak tempuh 12 kilometer di daerah terdekat dengan Pulau Berhala yaitu Kecamatan Nipah Panjang, hanya memakan waktu tempuh sekita 2 (dua) jam perjalanan.

Dan satu hal yang menarik bagi para pengunjung yang ingin memasuki kawasan Berhala, harus lebih ekstra hati-hati. Apalagi jika keadaan air surut, karena dalam radius beberapa puluh meter sebelum mencapai pulau tersebut banyak terdapat batu-batu granit di bawah permukaan laut.

Tentunya dengan bantuan nelayan setempat atau irang yang sudah memahami jalur masuk ke Pulau Berhala, dengan menyisir kejernihan air lautnya, dapat pula disaksikan pulau-pulau kecil yang menaungi Pulau Berhala di antaranya Pulau Telor, Pulau Laya maupun Pulau Manjin.

Menginjakkan kaki pada dataran pasir yang memanjang adalah sebuah pengalaman yang menarik. Gugusan pulau seakan ditata dengan rapi dan tersusun secara apik, telah membawa khasanah tersendiri sehingga membuat kita tak akan pernah merasa bosan untuk menyatakan keindahannya.

Pulau Berhala sendiri hanya memiliki luas sekitar 65 hektare. Bila dilihat dari kejauhan terkesan cukup angker. Tapi tidaklah demikian jika kita sudah menapaki pantai itu. Panorama pantai yang disertai pasir putih dan terumbu karang semakin memperindah pulau yang pernah diklaim oleh provinsi Riau masuk dalam wilayah kabupaten Dabo ini.
Saat ini Berhala dihuni oleh 13 KK (Kepala Keluarga). Mereka inilah yang akan menyambut kita begitu kita tiba di Berhala dengan sapaan ramah khas Melayu-nya. “Mau ke pendopo (home stay) atau mau keliling.”

Pulau ini memiliki banyak saksi sejarah. Di antaranya adalah kuburan keramat datuk Paduka Berhala ayah Orang Kayo Hitam dan meriam milik Belanda. Tentang makam keramat itu banyak sekali memunculkan keanehan. Misalnya, makam yang ditutup dengan kelambu itu sangat sulit untuk dipotret.

Meriam pantai dengan panjang sekitar lima meter dengan luas penampang pada bagian bawah sepanjang 30 sentimeter dan bagian ujung sepanjang 17 sentimeter terletak di atas bukit. Senjata ini konon digunakan untuk mengintai musuh yang mau masuk Pulau Berhala.

Tari Rangguk 2

A. Selayang Pandang

Tari Rangguk merupakan tari tradisional yang berasal dari Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Ada beberapa pendapat ahli yang mencoba mengungkap asal kata Tari Rangguk tersebut. Pertama, pendapat yang mengatakan bahwa istilah Rangguk berasal dari kata rangguk, ranggok, dan rangguek yang merujuk pada beberapa dialek yang berkembang di masyarakat Kerinci. Ketiga suku kata tersebut berkembang di beberapa daerah, misalnya kata rangguk berasal dari dialek masyarakat Kerinci Hulu, ranggok dari dialek pada masyarakat Sungai Penuh, dan rangguek merupakan dialek masyarakat Pulau Tengah. Kata rangguk, ranggok, dan rangguek menunjukkan arti “angguk” dan jika ditambah awalan me dari kata tersebut menunjukkan arti “mengangguk”. Kedua, pendapat yang mengatakan bahwa kata rangguk berasal dari 2 kata yang digabung menjadi satu. Dua kata tersebut adalah “uhang” yang berarti “orang” dan ”ganggok” yang berarti “angguk”. Kebiasaan masyarakat Kerinci yang acap kali menggabungkan dua kata menjadi satu membuat kata uhang dan nganggok dapat digabung membentuk ranggok yang berarti “mengangguk”.

Tari Rangguk konon diciptakan oleh seorang ulama setempat setelah kembali dari menunaikan ibadah haji di Makkah. Sewaktu menunaikan ibadah haji, beliau sempat belajar ilmu agama pada ulama setempat. Di sela-sela belajar agama tersebut, beliau berkeliling untuk melihat pergaulan dan tradisi yang berkembang pada masyarakat Arab. Pada waktu itu, beliau tertarik dengan salah satu tradisi yang dimainkan generasi muda setempat, yaitu menabuh rebana sembari mengangguk. Lalu beliau belajar pada para pemuda tersebut hingga menguasai dengan baik.

Ketika kembali ke kampung halaman, beliau melaksanakan tugasnya seperti sediakala sebagai seorang ulama untuk mendakwahkan ajaran Islam. Tetapi, usaha yang dilakukannya sia-sia dan mengalami kegagalan, sehingga dia merasa galau dan putus asa. Di tengah-tengah kegalauan tersebut, beliau teringat dengan pengalamannya menabuh rebana selama di Makkah. Maka, beliau mencoba metode baru dalam mengembangkan dakwah dengan kombinasi menabuh rebana sembari mamasukkan nilai-nilai ajaran Islam dalam lantunan pantun. Usaha ini membuahkan hasil. Banyak para pemuda yang tertarik dengan model dakwah tersebut dan mereka mulai meninggalkan kebiasaan buruk yang selama ini mereka jalani, seperti berjudi, mabuk-mabukkan, dan sabung ayam.

Pada awal perkembangannya, Tari Rangguk hanya dimainkan oleh kaum laki-laki saja. Mereka menabuh rebana di kala sore, sebagai sarana hiburan guna melepas lelah setelah seharian bekerja di sawah dan kebun. Mereka melakukannya di beranda rumah. Sedangkan untuk kaum perempuan tidak diperkenankan untuk ikut dalam tarian ini karena masih dianggap tabu. Baru sekitar tahun 1950-an kaum perempuan ikut serta mementaskan tarian tersebut hingga sekarang.

B. Keistimewaan

Tari Rangguk banyak mengandung nilai estetika (keindahan) dan nilai spiritual yang bersumber ajaran agama Islam. Hal ini tercermin dalam gerakan-gerakan kepala (mengangguk-angguk), irama musik (tabuhan rebana), serta beberapa selingan pantun puji-pujian. Gerakan tari yang disajikan oleh para penari diambil dari beberapa gerakan seperti liukan tumbuhan-tumbuhan, gerak riang hewan, dan lenggak-lenggok manusia yang dikombinasikan menjadi satu. Dan tidak kalah penting dari pelaksanaan Tari Rangguk adalah nilai spiritual yang melekat sebagai ungkapan rasa syukur dan ketakwaan kepada Sang Penciptanya (Allah SWT).

Dalam perkembangannya, gerakan tarian ini disesuaikan dengan suasana dan tempat tari tersebut dimainkan. Ketika tari dibawakan untuk hiburan, para pemainnya menabuh rebana dan mengangguk hanya sembari duduk melingkar. Tetapi jika tari dibawakan untuk menyambut tamu, para penari melakukan tari sembari berdiri (berbaris) dengan memukul rebana, sementara kepala mengangguk-angguk kepada tamu sebagai simbol ucapan selamat datang.

Selain sebagai hiburan dan untuk menyambut tamu, tari ini juga dibawakan pada pesta adat masyarakat Kerinci, seperti Keduri Sko (pesta pusaka) dan pemberian gelar luhah untuk pemimpin negeri. Keduri Sko (pesta pusaka) biasanya diadakan pada acara seperti pengangkatan atau pemberian gelar adat, seperti pemberian gelar Rio Depati, Mangku, Datuk, serta pimpinan suku.
C. Lokasi

Tari Rangguk dapat dijumpai di Kota Sungai Penuh, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, Indonesia. Bagi para wisatawan yang ingin menyaksikan tari ini bisa datang ke kota tersebut pada acara festival atau kegiatan besar yang ada di Kabupaten Kerinci, seperti Festival Danau Kerinci, pengangkatan pemimpin adat, dan penerimaan tamu kehormatan.
D. Akses

Untuk mencapai lokasi, perjalanan dapat ditempuh melalui tiga jalur alternatif dengan menggunakan angkutan umum (bus), mobil sewaan atau mobil pribadi. Pertama, perjalanan dimulai dari Kota Jambi ke Sungai Penuh (Ibu Kota Kabupaten Kerinci) yang berjarak sekitar 500 km dengan waktu tempuh sekitar 10 jam. Kedua, perjalanan dimulai dari Kota Padang ke Tapan kemudian dilanjutkan ke Sungai Penuh yang berjarak 278 km dengan waktu tempuh sekitar 7 jam. Ketiga, perjalanan dimulai dari Kota Padang menuju Muaralabuh kemudian dilanjutkan ke Sungai Penuh yang berjarak sekitar 211 km dengan waktu tempuh sekitar 5-6 jam.
E. Harga Tiket

Untuk menyaksikan tarian ini tidak dipungut biaya.
F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Di Kota Sungai Penuh terdapat beberapa hotel kelas melati yang nyaman untuk menginap dengan tarif mulai dari Rp 15.000 sampai Rp 100.000 per malam (September 2008). Untuk urusan makan dan minum, rasanya belum pas kalau tidak mencoba makan Beras Payo dengan lauk Gulai Ikan Semah dan Dendeng Beteko ketika berada di Kota Sungai Penuh. Makanan ringan, seperti Kacang Tojin, Lemang, dan Jeruk Pelompek juga bisa menjadi cemilan dikala bersantai. Untuk melepas dahaga, para wisatawan dapat menikmati suguhan Kopi Kerinci atau seduhan Teh Kayu Aro yang menggoda selera.



Masjid Agung Pondok Tinggi Kota Sungai Penuh 0


Masjid Agung Pondok Tinggi terdapat di Kota Sungai Penuh (ibu kota Kabupaten Kerinci). Masjid ini dibangun pada tahun 1874 dengan dinding yang terbuat dari anyaman bambu. Pada tahun 1890, oleh masyarakat setempat, dinding yang terbuat dari anyaman bambu tersebut diganti dengan kayu yang diukir dengan indah.

Pembangunan Masjid Agung Pondok Tinggi ditetapkan melalui musyawarah secara bersama warga Dusun Pondok Tinggi. Dari hasil musyawarah tersebut, terbentuklah panitia pembangunan masjid yang bertugas mengkoordinir pembangunan yang terdiri dari empat orang, mereka adalah Bapak Rukun (Rio Mandaro), Bapak Hasip (Rio Pati), Bapak Timah, dan Haji Rajo Saleh (Rio Tumenggung). Sementara untuk arsitektur bangunan dipercayakan kepada M. Tiru seorang warga Dusun Pondok Tinggi. Di samping itu, juga ditunjuk 12 orang tukang bangunan yang membantu mengukur, memotong, dan memilah berbagai komponen bangunan. Sementara itu, masyarakat setempat turut serta membantu pembangunan secara bergotong royong, terutama dalam menyediakan bahan-bahan untuk keperluan pembangunan. Pembangunan Masjid Agung Pondok Tinggi baru selesai secara permanen pada tahun 1902.
B. Keistimewaan
Keunikan masjid ini terletak pada arsitektur bangunannya. Arsitekur Masjid Agung Pondok Tinggi dibangun mengikuti model arsitektur masjid di Nusantara masa lampau dengan ciri atap berbentuk tumpang berlapis tiga. Bagi masyarakat setempat, tiga tingkat atap tersebut berkaitan dengan 3 filosofi hidup yang mereka jalankan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu bapucak satu (berpucuk satu), berempe Jurai (berjurai empat), dan batingkat tigae (bertingkat tiga). Berpucuk satu melambangkan bahwa masyarakat setempat mempunyai satu kepala adat dan beriman kepada Tuhan Yang Esa (satu); berjurai empat, lambang dari 4 jurai yang terdapat di Pondok Tinggi tempat masjid dibangun; dan batingkat tiga ialah simbolisasi dari keteguhan masyarakat dalam menjaga 3 pusaka yang telah diwariskan secara turun-temurun, yaitu pusaka tegenai, pusaka ninik mamak, dan pusaka depati.
Keistimewaan lainnya adalah masjid ini ditopang oleh 36 tiang penyangga. Ke 36 tiang tersebut dibagi menjadi 3 kelompok tiang, yaitu tiang panjang sembilan (tiang tuo), tiang panjang limau (panjang lima), dan tiang panjang duea (tiang panjang dua). Tiang-tiang tersebut ditata sesuai dengan ukuran, komposisi, dan letaknya masing-masing. Tiang panjang sembilan (tiang tuo) sebanyak empat buah tertata membentuk segi empat yang terletak di ruangan bagian dalam. Untuk tiang panjang limau (panjang lima) sebanyak 8 buah tertata membentuk segi empat dan tiang-tiang ini terletak di ruangan bagian tengah. Sementara itu, tiang panjang duea (panjang dua) sebanyak 24 buah tertata membentuk segi empat dan terletak di ruangan bagian luar.
Selain itu, goresan ukiran yang terpahat dengan indah, teratur, dan rapi pada dinding-dinding masjid menambah nilai artistik. Ukiran yang terpahat pada dinding masjid kaya dengan aneka motif khas berbagai bangsa, seperti Persia, Romawi, Mesir, dan Indonesia.
C. Lokasi
Masjid ini terletak di Dusun Pondok Tinggi, Kecamatan Sungai Penuh, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, Indonesia.
D. Akses
Lokasi dapat ditempuh melalui tiga alternatif jalur darat. Pertama, perjalanan dari Kota Jambi ke Kota Sungai Penuh yang berjarak sekitar 500 km, dengan waktu tempuh sekitar 10 jam. Kedua, perjalanan dari Kota Padang ke Tapan kemudian dilanjutkan ke Sungai Penuh yang berjarak sekitar 278 km dengan waktu tempuh sekitar 7 jam. Ketiga, perjalanan dari Kota Padang ke Muaralabuh, lalu dilanjutkan ke Sungai Penuh. Jarak dari Kota Padang ke lokasi objek wisata sekitar 211 km dengan waktu tempuh sekitar 5-6 jam. Ketiga alternatif tersebut dapat ditempuh dengan menggunakan angkutan umum, mobil sewaan, atau mobil pribadi.
E. Harga Tiket
Untuk masuk Masjid Agung Pondok Tinggi, para wisatawan tidak dipungut biaya.
F. Akomodasi dan Fasilitas lainnya
Di Kota Sungai Penuh (dulu ibu kota Kabupaten Kerinci, sekarang sudah menjadi Kota Madya ), terdapat banyak hotel kelas melati dengan tarif mulai Rp 15.000-Rp 100.000 per malam (April 2008) dengan pelayanan yang cukup baik. Sementara itu, untuk makan dan minum, para wisatawan bisa menikmati aneka masakan khas Kerinci, seperti beras payo, gulai ikan semah, dendeng bateko, kacang tojin, lemang, atau minum kopi kerinci dan teh kayu aro yang ada di Kabupaten Kerinci.


Situs Candi Muaro Jambi 2

A. Selayang Pandang
Keberadaan situs purbakala Muaro Jambi diketahui pertama kali oleh seorang perwira tentara Inggris, Letnan SC Crooke, tahun 1820, ketika ditugaskan mengunjungi daerah pedalaman Batanghari untuk pemetaan Sungai Batanghari. Situs Candi Muara Jambi diperkirakan dibangun pada zaman Kerajaan Sriwijaya dengan luas 12 kilometer persegi.
Di lokasi situs Candi Muaro Jambi terdapat banyak candi, diantara sekian banyak candi ada beberapa candi yang telah direnovasi oleh pemerintah daerah Provinsi Jambi. Diantaranya adalah: Candi Tinggi pada tahun 1978 dan selesai 1987; Candi Gumpung pada tahun 1982 dan selesai tahun 1988; Candi Astano pada tahun 1985 dan selesai pada tahun 1989; serta Candi Kembar Batu yang dilakukan pada tahun 1991 dan baru selesai pada tahun 1995.

B. Keistimewaan
Di lokasi situs Candi Muaro Jambi terdapat sembilan candi besar. Kesembilan candi tersebut adalah Candi Kuto Mahligai, Candi Kedaton, Candi Gedong I, Candi Gedong II, Candi Gumpung, Candi Tinggi, Candi Telago Rajo, Candi Kembar Batu, dan Candi Astomo. Selain candi besar, juga terdapat beberapa candi kecil yang bertebaran di sepanjang lokasi tersebut.
Sementara itu, di dalam komplek candi terdapat museum. Di dalam museum tersimpan beberapa peninggalan yang tersimpan secara baik. Dapat dijumpai Arca Dwarapala (arca penjaga bangunan suci dari abad ke-13, yang ditemukan April 2002 di Candi Gedong II), belanga dari perunggu (ditemukan di Candi Kedaton tahun 1994), padmasana (tempat duduk arca), tiga patung gajah dari batu, puluhan batu bata kuno, rata-rata berukuran 18x32 cm dengan tebal 6 sentimeter. Tidak hanya itu, koleksi berupa tembikar, artefak perunggu, belanga logam dengan berat 160 kg serta tinggi 0,67 meter dengan lingkar bibir berdiameter 1,06 meter, pecahan keramik dan porselen kuno dari abad ke-9 hingga ke-11 masehi, juga terdapat di museum ini.
C. Lokasi
Situs Candi Muaro Jambi terletak di Desa Muara Jambi, kecamatan Muaro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi, Indonesia.
D. Akses
Situs ini terletak di tepi Sungai Batanghari atau sekitar 25 km timur laut dari Kotamadya Jambi. Untuk mencapai lokasi, perjalanan bisa ditempuh melalui jalur darat dan jalur sungai. Jika melalui jalur sungai, lama perjalanan lebih kurang 20 menit dengan menggunakan speed boat. Sedangkan jalur darat, perjalanan dapat ditempuh melalui 2 akses. Akses pertama perjalanan dimulai dari Kodya Jambi ke Jembatan Aur Duri menuju Olak Kemang dan ke lokasi objek wisata. Akses kedua, perjalanan dimulai dari Kodya Jambi ke Jembatan Aur Duri menuju Simpang Jambi Kecil dan ke lokasi objek wisata.
E. Tiket
Cukup dengan membayar Rp. 3.000,- Rp. 5.000,- para wisatawan sudah bisa menikmati objek wisata Candi Muaro Jambi.

AIR TERJUN TELUN BERASAP 0


Air terjun Telun Berasap merupakan objek wisata yang letaknya di perbatasan Kabupaten Kerinci dengan Kabupaten Solok Sumatra Barat. Objek wisata ini dapat dicapai dengan kendaraan roda empat. Jarak dari Kota Sungai Penuh 60 Km.

Sumber air terjun ini berasal dari Danau Gunung Tujuh yang mengalir melewati tebing terjal dengan ketinggian lebih kurang 50 m. objek wisata in I merupakan suatu kawasan yang sangat menarik. Banyak dikunjungi para wisatawan domestic san wisatawan asing. Butiran-butiran uap-air yang menyerupai asap dan pelangi yang berwarna indah tatkala matahari memantulkan sinarnya ikut menghiasi air terjun. Untuk mencapai lokasi yang dekat dengan air tejun harus melalui tangga yang telah ditata dengan baik

DANAU GUNUNG TUJUH 0


Secara ilmiah Danai Gunung Tujuh merupakan danu vulkanik yang terbentuk akibat kegiatan gunung berapi di masa lampau. Danau ini berada di ketinggian 1.996 m dari permukaan laut dan merupakan danau tertinggi di Asia Tenggara.


Danu ini berukuran panjang 4,5 km dan lebar 3 km yang dikelilingi oleh 7 buah gunung dengan puncak tertinggi 2.732 m dari permukaan laut. Kawasan danau ini merupakan kewasn Taman Nasional Kerinci Seblat yang menjadi salah satu keanekaragaman hayati. Objek wisata petualangan ala mini sering dijadikan tempat berkemah bagi para mahasiswa, pelajar dan wisatawan. Daya tarik kawasan ini meliputi keindahan alam yang mempesona serta udara yang sejuk dan bersih. Objek wisata ini berjarak lebih kurang 51 km dari Kota Sungai Penuh, Provinsi Jambi

GUNUNG KERINCI 0


Merupakan gunung tertinggi di Sumatera dengan ketinggian 3.805 m dari permukaan laut. Gunung ini mempunyai banyak misteri dan keunikan yang merupakan gunung api tertinggi di Indonesia yang masih aktif. Luas kawasan yang dimiliki berukuran ± 580 m x 600 m dengan kondisi air sawah yang berwarna hijau kekuning-kuningan, suhu terendah diatas puncak gunung mencapai 5°C. Pada hari kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus dan pada hari libur pendidikan nasional banyak dikunjungi oleh pendaki-pendaki gunung.



Untuk mencapai puncak agunung Kerinci di perlukan waktu 8-10 jam dengan pemberhentian (selter) sebanyak 4 buah. Sesampainya di puncak gunung ini akan terlihat panorama alam yang menakjubkan, indah dan menarik. Untuk mencapai Kerinci dari kota Sungai penuh harus menempuh jarak lebih kurang 49 km.

Tanggo Rajo 0



Kawasan di depan Rumah Dinas Gubernur yang berada di pinggir Sungai Batanghari, merupakan kawasan dengan panorama dan pusat jajanan murah

1. Lokasi : Kawasan di depan Rumah Dinas Gubernur Jambi, Jl. Sultan Taha, Kecamatan Pasar Jambi
2. Wisata : Wisata kuliner dan panorama dari tepi Sungai Batanghari
3. Fasilitas : - Area pusat jajanan yang tertata rapi
- Jalan aspal & tangga hingga ke pinggir sungai Batanghari

4. Keterangan : Merupakan kawasan yang sering dikunjungi sebagai tempat rekreasi keluarga menikmati panorama sungai Batanghari, memancing, atau menikmati jajanan di sepanjang jalan raya di pinggir sungai. Dari Tanggo Rajo inilah tiap tahun Gubernur melambaikan bendera start dalam event tahunan Lomba Perahu Tradisional, dalam rangka HUT RI, 17 Agustus.

Taman Mini Jambi & Taman Rimba 0

Kawasan obyek wisata budaya, taman rekreasi dan sarana olahraga.
1. Lokasi : Jl. Sunaryo, Kecamatan Jambi Selatan, 7 km dari pusat kota dan 500 m dari Bandara Sultan Taha

2. Wisata : Taman hiburan dan rekreasi seluas 18 ha
3. Fasilitas :
Rumah adat dari 6 kabupaten-kota se-Provinsi Jambi
Bangunan gedung permanen
Stadiun terbuka dengan sistem penerangan
Tempat parkir luas
Terdapat pintu masuk (gapura) & dikelilingi pagar
Kebun binatang & taman, dengan flora & fauna yang dilindungi
4. Keterangan : Merupakan kawasan yang pernah digunakan untuk penyelenggaraan MTQ Nasional ke-18 tahun 1997, setelahnya biasa digunakan sebagai pusat kegiatan perayaan event-event penting baik oleh pemerintah maupun swasta