Silahkan Masuk

Showing posts with label Jambi. Show all posts
Showing posts with label Jambi. Show all posts

Ike Nurjanah Senandungkan Lagu Daerah Jambi 9

MOHON MAAF KEPADA TEMAN-TEMAN KU YANG BUKAN BERASAL DARI JAMBI
POSTINGAN KALI INI MERUPAKAN UNGKAPAN RASA BANGGA SAYA TERHADAP DAERAH KU (JAMBI GHITU LHOOOOO)
JADI KHUSUS UNTUK POSTINGAN INI SAYA MUNGGUNAKAN BAHASA IBU SAYA
(moga-moga aja ada yang ngerti ya!!!)

Awal Ceritonyo kayak gini, sebenarnyo aku tu dak tau kalu Ike Nurjanah tu bawak/nyanyiin lagu kito (red, Jambi). Jadi kalu malam aku biasonyo nonton Jambi TV (televisi lokal), lagi enak-enak nonton eh ruponyo keluar video klip Ike Nurjanah, pertamo ningok biaso bae, ruponyo pas dengarin lagunyo dio bawak lagu kito (red, Jambi) judul lagunyo "Orang Kayo Hitam", wah, ruponyo biso jugo yo mbak Ike nyanyiin lagu Jambi.

Jadi singkat cerito, dalam lubuk hati aku yang paling dalam (sampe dak ado orang yang biso ke dalamnyo) "aku pasti beli kaset ini" tapi sudah keleleng di pasar mutar-mutar cari kasetnyo masih jugo dak ketemu (yang asli apolagi yang bajakan). Dengan hasrat yang dak sampai tadi aku langsung baleklah kerumah aku. Hari beganti dengan hari yang jugo mau jadi minggu, ado adek sepupu aku dari Bulian (kab. Batanghari) datang kerumah. Kami ngota-ngotalah beduo, akhirnyo nyampelah otaan kami tadi ke lagu yang di nyanyiin samo Mbak Ike tadi. Emang dasar sudah jodoh, ruponyo adek sepupu aku tadi tau dionyo tentang album mbak Ike Nurjanah yang nyanyi lagu jambi. Katonyo "emang ado albumnyo bang", wah kebetulan nian, ruponyo pacar adek aku tu ado punyo kaset nyo. katonyo pacarnyo tu bapaknyo yang bawak dari Jakarta. Lho di Jakarta ado kok di Jambi payah nian nyari nyo.

Emang dasar aku sudah pengen ningok album jugo sekalian dengarin lagunyo, langsung bae aku suruh adek aku tu pinjamin kaset tu dengan pacarnyo. Nah sekarang aku sudah dengar lagu-lagu yang ado di dalam kaset tu. Mbak Ike Nurjanah dalam Album "Senandung Melayu Jambi" itu nyanyiin limo ekok lagu Jambi. Judul lagu yang di nyanyiin nyo antaro lain "Mak Inang, Orang kayo Hitam, Negeri Jambi, Ketalang Petang dan Rideak Rilea".

Sebenarnyo aku tu maulah masukin video klipnyo dalam blog aku ni, tapi berhubung di kaset tu ado larangan untuk publikasi atau perbanyak, jadi aku dak biso masukin semua video klipnyo. "Sekarang ni aku sedang berusaha mintak izin dengan Kantor Perwakilan Provinsi Jambi Yang Ado di Jakarta.

Sudah dulu yo!!

Cerito kito bakalan besambong kok, tunggu be sambungannyo!!

Kalu ado yang tau e-mail apo websitenyo kantor tadi biso kasih tau ke aku yo!!!


Kehidupan Sosial & Budaya Masyarakat Jambi 1

Kebudayaan Jambi yang telah berurat berakar sangat dipengaruhi oleh Budaya Melayu yang bernafaskan Islam. Kebudayaan tersebut masih kuat bersandar berlindung pada adat istiadatnya dan belum banyak dikenal orang. Kebudayaan Jambi yang tersebar di 6 Daerah Tingkat II tersebut seolah-olah masih menyimpan misteri yang belum muncul ke permukaan bumi. Segudang keunikan masih tertimbun, tersimpan rapi dan aman walaupun mungkin telah ada yang mencoba menjamahnya, bak putri yang jinak-jinak merpati, seolah-olah mudah ditangkap kenyataannya sentuhan halus saja yang diperoleh.

Beragam bentuk kesenian daerah muncul mewakili identitas murni budaya Jambi yang dipengaruhi budaya Melayu yang terdapat hampir diseluruh daratan Sumatera terutama di sepanjang pesisir timur. Keanekaragaman bentuk kesenian daerah tersebut justru lebih memperkaya bentuk-bentuk penyajian pertunjukan seni budaya yang unik dan menarik.

Berpijak dari dasar tersebut diatas, Pemda Tingkat I Jambi berusaha terus untuk mengangkat ke permukaan dan memperkenalkan kepada masyarakat luas dan tamu-tamu asing dengan harapan agar budaya Jambi tetap eksis dan dikenal orang sebagai bagian dari budaya bangsa Indonesia.

Kehidupan masyarakat Jambi dipandang dari segi sosial budaya adalah Adat Bersendikan Syara’, Syara’ Bersendikan Kitabullah.

Masyarakat Daerah Jambi adalah masyarakat yang heterogen, dimana terbilang dan tercacak disitu tanam tumbuh, dimana bumi dipijak, disana langit dijunjung, dimana larasnya dicencang, disitu airnya diminum, tidak membawa cupak dengan gantang.

Secara struktur pemerintahan dahulunya Daerah Jambi ini terbagi atas :

Daerah Bangsa Nana Dua Belas;
Daerah Nan Berbatin;
Luak Nan Berpenghulu dengan jenjang-jenjang nan berajo, rantau nana berjenang, loak berpenghulu, kampung nan betuo, rumah nan bertengganai.
Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jambi terkenal dengan kegotong royongan dan keterbukaan yang dikenal dengan istilah Berat Samo Dipikul, Ringan Samo Dijinjing. Pada lazimnya memutuskan sesuatu pekerjaan kerjasama, dimusyawarahkan, bulat aek dek pembuluh bulat kato dimukat

Batik Tradisional Jambi 0

Batik adalah hasil karya bangsa Indonesia yang tercipta dari perpaduan antara seni dan teknologi leluhur bangsa Indonesia. Produk batik dapat berkembang hingga sampai pada suatu tingkatan yang membanggakan baik desain maupun prosesnya. Begitu pula dengan batik yang ada tumbuh dan berkembang di daerah Jambi.

Pada zaman dahulu batik Jambi hanya dipakai sebagai pakaian adat bagi kaum bangsawan/raja Melayu Jambi. Hal ini berawal pada tahun 1875, Haji Muhibat beserta keluarga datang dari Jawa Tengah untuk menetap di Jambi dan memperkenalkan pengolahan batik. Motif batik yang diterapkan pada waktu itu berupa motif - motif ragam hias seperti terlihat pada ukiran rumah adat Jambi dan pada pakaian pengantin, motif ini masih dalam jumlah yang terbatas. Penggunaan motif batik Jambi, pada dasarnya sejak dahulu tidak dikaitkan dengan pembagian kasta menurut adat, namun sebagai produk yang masih eksklusif pemakaiannya dan masih terbatas di lingkungan istana.

Dengan berkembangnya waktu, motif yang dipakai oleh para raja dan keluarganya saat ini tidak dilarang digunakan oleh rakyat biasa. Keadaan ini menambah pesatnya permintaan akan kain batik sehingga berkembanglah industri kecil rumah tangga yang mengelola batik secara sederhana.

Perkembangan batik sempat terputus beberapa tahun, dan pertengahan tahun 70-an ditemukan beberapa lembar batik kuno yang dimiliki oleh salah seorang pengusaha wanita "Ibu Ratu Mas Hadijah" dan dari sanalah batik Jambi mulai digalakkan kembali pengembangannya. Salah seorang ibu yang turut juga membantu perkembangan pembatikan di Jambi adalah Ibu Zainab dan Ibu Asmah yang mempunyai keterampilan membatik di Seberang Kota.

Pada mulanya pewarnaan batik Jambi masih menggunakan bahan-bahan alami dari tumbuh-tumbuhan yang terdapat di dalam hutan daerah Jambi, seperti :

1. Kayu Sepang menghasilkan warna kuning kemerahan.
2. Kayu Ramelang menghasilkan warna merah kecokelatan.
3. Kayu Lambato menghasilkan warna kuning.
4. Kayu Nilo menghasilkan warna biru.
Warna-warna tersebut merupakan warna tradisional batik Jambi, yang mempunyai daya pesona khas yang berbeda dari pewarna kimia.

Pada tahun 1980 tanggal 12 s/d 22 Oktober di Desa Ulu Gedong diadakan Pendidikan dan Pelatihan Batik di Kotamadya Jambi, diklat yang pertama kali di selenggarakan ini diprakarsai oleh Kanwil Departemen Perindustrian Propinsi Jambi (Drs. H. Suprijadi Soleh) bekerjasama dengan instansi terkait dan Ketua Tim Penggerak PKK Propinsi Jambi (Prof. Dr. Sri Soedewi Maschun Sofwan, SH.), dengan mendatangkan tenaga pelatih /instruktur dari Balai Besar Kerajinan clan Batik Yogyakarta.

Sampai saat ini tidak seorangpun tahu dengan pasti siapa pencipta motif batik tradisional yang sangat banyak jumlahnya, juga filosofi yang terkandung dalam motif tersebut. Yang jelas motif batik daerah Jambi mempunyai ciri-ciri khas tersendiri dan telah berkembang sedemikian rupa hingga dikenal oleh masyarakat Indonesia dan mancanegara.

Dengan munculnya industri tekstil bermotif batik, disatu sisi merupakan penunjang atas keberadaan dan pelestarian motif batik tradisional itu sendiri, karena semakin banyak yang menerapkan motif batik tradisional berarti pelestarian, terutama dari segi motif dapat dipertahankan. Tetapi dari segi kehidupan industri batik tradisional justru sebaliknya, karena tekstil bermotif batik yang diproduksi secara besar--besaran akan menjatuhkan harga batik tradisional disamping mempercepat tingkat kejenuhan motif akan tersebut dimata konsumen.
Kondisi persaingan antara industri tekstil bermotif batik dan industri batik tradisional, sebenarnya tidak perlu terlalu dikhawatirkan, karena masing-masing produk mempunyai segmen pasar tersendiri, seperti :

1. Segmen pasar eksklusif (berdisain khusus dan mewah, biasanya terbuat dari sutra dan merupakan batik tulis tangan yang sangat halus detailnya).
2. Segmen pasar menengah (untuk kepentingan masyarakat umum).
3. Segmen pasar massal untuk memenuhi kebutuhan seragam sekolah, organisasi, kantor dan sebagainya (batik cap yang diproduksi massal).
Oleh karena itu dalam upaya percepatan pengembangan kerajinan batik, kondisi ini merupakan persoalan yang harus diperhatikan, sehingga dalam pembinaan dan pengembangan industri batik tradisional, baik motif maupun industri batiknya sendiri, diharapkan dapat terus maju bersama dan saling mendukung, karena batik tidak hanya sekedar selembar tekstil dengan motif dan proses tertentu, tetapi merupakan khasanah hasil seni budaya bangsa Indonesia yang merupakan identitas kita, karena dimata dunia, batik identik dengan Indonesia. Hal lain yang juga sangat perlu diperhatikan sejalan dengan usaha untuk menembus pasar global adalah upaya agar motif batik Jambi mendapatkan pengesahan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) / Patent Rights baik secara Nasional maupun Internasional.

Kini batik Jambi telah menjadi salah satu komoditi unggulan daerah Jambi, selain telah dapat membantu pemerintah daiam menanggulangi pengangguran, juga telah mendapat penghargaan baik dari masyarakat daerah maupun tingkat nasional. Dalam perjalanannya, batik Jambi telah beberapa kali mendapat penghargaan di tingkat nasional yaitu :

1. Upakarti tahun 1988 atas nama "Batik Relita"( H. Amran Abdullah )
2. Upakarti tahun 1990 atas nama "Batik Nova"( Yuliawati }
3. Upakarti tahun 1993 atas nama Ketua Tim Penggerak PKK Propinsi Jambi (Hj. Lily Abdurrahman Sayoeti )
4. Upakarti tahun 1994 atas nama "Batik Mawarda"( Hj. Juriah ).
Suatu kebanggaan yang tidak dapat dinilai, melalui perjuangan Ibu Hj. Lily Abdurrahman Sayoeti, daerah Jambi telah pernah menjadi tuan rumah pada acara Simposium International Tekstil Indonesia pada tanggal 6 s/d 9 November 1996, yang membuktikan bahwa batik Jambi cukup diperhitungkan di tingkat nasional. Disamping itu dorongan dan dukungan yang diberikan Ibu Lily yang ketika itu sebagai ketua Dekranas Propinsi Jambi cukup banyak, antara lain dengan dibangunnya Sanggar Selaras Pinang Masak, bantuan promosi, desain, teknologi dan lain-lain. Demikian juga Batik Jambi saat ini telah berkembang dengan pesat, berkat dukungan dari Ibu Ketua Dekranas Propinsi Jambi (Ibu Hj. Ratu Munawaroh Zulkifli Nurdin), baik dari teknologi proses, penggunaan bahan baku maupun penggunaan batik warna alam dan peningkatan desain batik serta bantuan promosi melalui sanggar-sanggar, show room serta pameran.


Oleh-oleh Dari Jambi 0

Seorang teman baru saja menutup telpon, dia minta dibawakan oleh oleh dari Jambi. Sejenak terdiam, mau dibawakan apa kawan satu ini? Di Jambi agak sulit mencari oleh oleh sesuai selera teman itu. Ada pasar keramik didekat pasar tua terbesar di Jambi, pasar Angsoduo, tapi jelas dia tidak akan suka benda pecah belah. Keramik yang didatangkan dari Batam ini lebih disukai oleh para ibu rumahtangga untuk menghiasi rumahnya (saya juga malas berat-berat disuruh membawa barang pecah belah hingga kedalam kabin pesawat). Mencari makanan khas Jambi pun tak ada. Berbeda dengan Medan yang terkenal dengan “teri Medan” atau “Bika Ambon”nya, disini amat sulit mencari pangan khas asli Jambi. Tidak ada brosur wisata yang menyebutkan keterangan dimana tempat yang paling bagus membeli oleh oleh di Jambi. Kain tenun pun tidak ada disini.


Besoknya, seorang kawan asli Jambi mengajak saya pergi melihat kerajinan ukir kayu di desa Betung, Kabupaten Batanghari, tepatnya menuju arah Barat dari kota Jambi. Jadilah, kami bertiga segera meluncur kesana naik mobil. Saya ingin membawakan satu item kayu ukir yang cantik dengan bentuk cukup kecil dan mudah ditenteng kedalam pesawat tanpa ada resiko pecah ditengah jalan. Butuh waktu 45 menit lebih untuk tiba dilokasi itu, cukup jauh dan terpencil melewati hutan dan padang savana. Dijalan saya bertemu dengan beberapa truk pengangkut kayu hutan yang belum diolah. Kata teman, itu kayu curian. Jambi dikenal dengan hasil hutannya memang, dan hutan disini termasuk yang dijarah secara serakah tanpa mengikuti aturan regulasi jelas. Penjarahan merajalela hingga masuk ke hutan konservasi di “Bukit Duabelas” dan “Taman Nasional Kerinci”.

Saya teringat nasib suku Anak Dalam yang tinggal disekitar hutan Bukit Duabelas dan Kerinci. Nasib mereka sebagai “ahli waris sah” hutan ulayat menjadi terpinggirkan karena “halaman rumah” mereka dibabat oleh penebang hutan liar. Hutan sebagai sumber dan napas hidup mereka kian menyusut.

Saya pernah diberi hadiah persahabatan kecil oleh salah satu Tumenggung – sebutan bagi ketua adat-- dari suku Anak Dalam berupa kalung mistik yang disebut “kalung Sebalik Sumpah”. Kalung ini hanya dibuat dari rangkaian biji pohon Sebalik Sumpah, demikian mereka menyebutnya. Pohon ini langka sekali, hanya dapat ditemui setelah berjalan kedalam hutan lebat berhari hari.

Cara mengambilnya pun harus disertai “merayu” pohon itu agar mau merelakan bijihnya diambil oleh suku Anak Dalam disertai rayuan pantun dan desahan mantra yang lama dan panjang. Setelah itu baru bisa diambil. Konon, jika pakai kalung ini, siapapun yang menyumpahi kita (memaki kasar), maka sumpah serapah itu akan berbalik menimpa orang yang memaki kita. Mungkin, kelak, tidak akan ada lagi pohon yang akan “dirayu” dengan pantun puitis apabila penebangan liar masih merajalela. Mereka manusia hutan, hidup dihutan, dan kini hutan rumah mereka kian menyusut. Nasib mereka tinggal menunggu waktu saja .

Tibalah kami didesa yang dituju. Hanya ada beberapa toko semi permanent dari bangunan kayu yang menjual ukir kayu khas Betung. Saya melongok kedalam, yaaa ampun!... semuanya ukir kayu dalam bentuk raksasa! Mendadak, timbul sikap malas saya membayangkan harus membeli satu item ukiran disitu dan membawanya hingga pulang ke Jakarta. Pengrajin disini ternyata menjual satu set meja dan kursi yang terbuat dari kayu utuh atau akar kayu tanpa sambungan. Luarbiasa berat dan berukuran super besar. Jangan tanya lagi bagaimana beratnya meja kursi ini. Saya yakin, membeli satu set ukiran ini, dijamin meja dan kursi ini bisa diwariskan hingga tujuh turunan! Awet dan tahan lama, pasti!

Bahan baku ukir kayu ini kebanyakan berasal dari kayu jenis Rengas, Meranti, dan beberapa dari Jelutung. Untuk kayu Rengas, jenis ini dalam habitat aslinya sangat gatal dan dapat menyebabkan kulit melepuh. Sekali kita menyenggol pohon Rengas, maka dijamin kita akan memekik panas dan gatal luar biasa. Penduduk disini mengolah kayu ini dengan cara membakarnya terlebih dahulu agar getahnya yang beracun dapat hilang, sehingga kayunya bisa ditebang dan diolah.

Seluruh sudut toko saya ikuti mencari beberapa item yang layak untuk dipajang dimeja teman saya. Akhirnya saya menemukan pilihan asbak kayu atau ukir kayu ikan Arowana. Cuma ini saja, lainnya tidak ada. Karena tidak mempunyai pilihan lain yang lebih beragam, saya membeli asbak kayu. Lumayanlah, daripada jauh-jauh datang kesini tapi tidak membeli apapun, lebih baik membawa satu oleh-oleh.

Penulis : hantulaut
Fotografer : Silverum
Sumber : navigasi.net
Lokasi : Kec. Pemayung, Kab. Batanghari, Jambi

Kantor Gubernur Provinsi Jambi 0