Silahkan Masuk

Showing posts with label Peternakan. Show all posts
Showing posts with label Peternakan. Show all posts

PREFERENSI SERANGGA FAMILIA COCCINELIDAE UNTUK MEMILIH KOMBINASI TUMBUHAN FAMILIA ASTERACEAE 2

ABSTRAK
Sejak adanya pertanian menetap, usaha perlindungan tanaman telah dikenal.
Adanya organisme pengganggu tanaman, khususnya serangga menyebabkan
kerugian yang cukup tinggi.

Penggunaan pestisida untuk memberantas pengganggu
tertentu malah berakibat resurgensi, resistensi, musnahnya musuh alami, serta
pencemaran lingkungan. Salah satu teknik augmentasi adalah perlindungan yang
memberikan gulma sintetis sebagai habitat pengganti untuk serangga predator,
dengan tujuan untuk memberikan musuh alami bagi pengganggu.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui preferensi serangga familia
Coccinelidae untuk memilih kombinasi tanaman familia Asteraceae dan waktu
orientasinya. Dalam penelitian ini digunakan olfaktometer. Serangga uji diaklimasi
selama 24 jam, dengan replikasi dua puluh kali. Waktu yang dibutuhkan serangga
untuk memilik keempat kombinasi tanaman dicatat. Digunakan analisis deskriptif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Coccinella septempunctata tertarik
kepada Eupatorium odoratum dengan persentase ketertarikan sebesar 50% dan
waktu orientasinya 419 detik. Synharmonia conglobata 35 % lebih tertarik pada
kombinasi tanaman Bidens pilosa dan Crassocephalu crepidiodes dengan waktu
orientasi rata-rata 457 detik.
Kata kunci: preferensi, predator, perlindungan


MAU DOWNLOAD YA????

PASTI LAGI CARI LITERATUR UNTUK SKRIPSINYA


YA UDAH BURUAN DI DOWNLOAD

KLIK AJA DISINI

Trend Modernisasi Perkandangan Sapi Perah 0

Usaha sapi perah merupakan salah satu sektor peternakan yang terus berkembang mengarah pada efisiensi, produksi dan mutu hasil yang semakin tinggi. Salah satu faktor penting yang dinilai ikut berperan adalah yang menyangkut kesejahteraan ternak, khususnya kandang atau ruang pemeliharaan

Serangkaian artikel yang diturunkan oleh ”Veepro Magazine” belum lama ini menggambarkan bahwa perkembangan konsep-konsep modern dan pelaksanaannya dalam manajemen industri persusuan ikut mempengaruhi perkembangan pola-pola dan desain kandang sapi perah sebagai suatu tuntutan. Peran penting kandang terus meningkat. Pengembangan sistem kandang modern didorong oleh kawanan ternak yang semakin besar, produksi per sapi yang meningkat, serta mekanisasi dan otomatisasi dalam cara pemberian pakan dan pemerahan susu.

Tahun 1970-an dan 80-an mencatat perubahan radikal pola per kandangan sapi (di Belanda-pen). Sistem lama, sapi yang terikat beralih ke perkandangan dengan petak-petak ruangan (cubicles) yang memberi kebebasan bergerak bagi sapi, menjadi tempatnya berbaring dan mengambil/mengkonsumsi makanan pada raknya. Pemerahan bisa berlangsung lebih praktis dan cepat dan di ruang terbuka, tidak seperti dalam petak kandang (stall).

Salah satu faktor kunci dalam peternakan modern ialah efisiensi kerja. Ini menuntut tipe perkandangan yang kompak dan terancang dengan baik. Beberapa faktor yang akan memengaruhi rancangan itu meliputi ukuran, cara pemerahan, cara pemberian pakan, tenaga kerja, ruang yang tersedia, dan seterusnya.

Tujuan yang didambakan usaha peternakan ikut menentukan struktur dan tata letak perkandangan. Ini menyangkut kepentingan ternak dan peternak. Ternak butuh akses bebas pada pakan dan air, kebebasan bergerak bagi hewan lebih muda dalam kawanan, istirahat yang menyenangkan, cahaya matahari yang cukup, tempat yang higienis, pakan yang bersih, ventilasi yang baik. Sedangkan peternak butuh rute kerja harian yang pendek, fasilitas ergonomik, akses dan pengawasan yang mudah pada ternak, disain dan peralatan yang hemat tenaga kerja, serta hewan yang bersih.

Sumber: www.sinartani.com

Pengaruh Pemberian Ransum yang Mengandung Ampas Tebu Hasil Biokonversi oleh Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus) terhadap Performans Domba Priangan 0

Oleh : A. R. TARMIDI

JITV, Volume 9 No. 3, (2004)

DOWNLOAD FULLTEXT



Penambahan ampas mengkudu sebagai senyawa bioaktif terhadap performans ayam broiler 0

Oleh : BINTANG, I.A.K., A.P. SINURAT dan T. PURWADARIA

Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner (JITV), Volume 12 No. 1, (2007)

DOWNLOAD FULLTEX



Pemanfaatan Ampas Kelapa Limbah Pengolahan Minyak Kelapa Murni Menjadi Pakan 0

Miskiyah, I. Mulyawati dan W. Haliza

Prosiding Seminar Teknologi Peternakan dan Veteriner, (2006)

Download Fulltext




Ki Rinyuh (Chromolaena odorata (L) R.M. King dan H. Robinson): Gulma Padang Rumput yang Merugikan 0

Authors:
Bambang R. Prawiradiputra

Series:
Buletin Ilmu Peternakan Indonesia ( WARTAZOA), Volume 17 No. 1 (2007)
Abstract:

Ki rinyuh (Chromolaena odorata (L) R.M. King dan H. Robinson) merupakan salah satu gulma padang rumput yang penting di Indonesia. Kerugian yang dapat ditimbulkan oleh gulma ini terhadap subsektor perternakan sangat tinggi. Gulma ini berasal dari Amerika Tengah, tetapi kini telah tersebar di daerah-daerah tropis dan subtropis. ki rinyuh dapat tumbuh baik pada berbagai jenis tanah. Laporan pertama yang menyangkut kerugiannya terhadap ternak di Indonesia baru dilaporkan pada tahun 1971, yaitu mengenai keberadaannya di cagar alam Pananjung, Jawa Barat, yang merugikan banteng di suaka alam tersebut karena rumput pakannya berkurang akibat invasi gulma berkayu ini.


Ada empat alasan pokok mengapa Ki rinyuh digolongkan sebagai gulma yang sangat merugikan: (1) dapat mengurangi kapasitas tampung padang penggembalaan, (2) dapat menyebabkan keracunan, bahkan mungkin sekali kematian ternak, (3) menimbulkan persaingan dengan rumput pakan, sehingga mengurangi produktivitas padang rumput, dan (4) dapat menimbulkan bahaya kebakaran terutama pada musim kemarau. Pengendalian dengan herbisida dipandang tidak efektif di samping kurang ramah lingkungan. Pilihan lain adalah dengan cara mekanis (dibabad) atau dengan cara hayati (dengan serangga atau kompetisi dengan vegetasi lain). Pengendalian dengan kombinasi mekanis dan herbisida lebih baik daripada hanya dengan herbisida saja. Selain itu, gulma ini juga dapat dimanfaatkan sebagai “pupuk” atau “perangsang pertumbuhan” yang dapat memperbaiki sifat morfologis tanaman dan meningkatkan hasil beberapa jenis tanaman.

Kata kunci: Ki rinyuh, gulma, padang rumput, pengendalian, manfaat

Download Selengkapnya

Program Bio Energi Perdesaan (B E P) 0

Salah satu permasalahan nasional yang kita hadapi dan harus dipecahkan serta dicarikan jalan keluarnya pada saat ini adalah masalah energi, baik untuk keperluan rumah tangga, maupun untuk industri dan transportasi.
Terkait dengan masalah tersebut, salah satu kebijakan pemerintah ialah rencana pengurangan penggunaan bahan baker minyak tanah untuk keperluan rumah tangga.
Sejalan dengan hal itu pemerintah juga mendorong upayaupaya untuk penggunaan sumber-sumber energi alternative lainnya yang dianggap layak dilihat dari segi teknis, ekonomi, dan lingkungan, apakah itu berupa biofuel, biogas/gas bio, briket arang dan lain sebagainya.
Beberapa waktu yang lalu sempat menjadi wacana kemungkinan digunakannya briket batu bara. Namun, belakangan upaya ke arah itu agaknya tidak diteruskan atau
sementara dihentikan dulu karena dianggap belum layak dari segi lingkungan khususnya jika digunakan untuk energi rumah tangga.


Dalam rangka pemenuhan keperluan energi rumah tangga khususnya di perdesaan maka perlu dilakukan upaya yang sistematis untuk menerapkan berbagai alternatif energi yang layak bagi masyarakat. Sehubungan dengan hal tersebut maka salah satu upaya terobosan yang dilakukan adalah melaksanakan program Bio Energi Perdesaan (BEP), yaitu suatu upaya pemenuhan energi secara swadaya (self production) oleh masyarakat khususnya di perdesaan, termasuk bagi masyarakat di desa-desa terpencil seperti di daerah pedalaman dan kepulauan.
Pelaksanaan program BEP juga terkait dengan upayaupaya pengembangan agribisnis dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan dan ramah lingkungan. Secara garis besar tujuan program BEP adalah berkembangnya swadaya masyarakat dalam penyediaan dan penggunaan bio energi (bio gas, bio massa, dan bio fuel) bagi keperluan rumah tangga termasuk untuk kegiatan usaha industri rumah tangga khususnya di perdesaan.

Download Selengkapnya

Teknologi "Pakan Murah" untuk Pembibitan Sapi Potong di Sentra Padi 0

SINAR TANI Edisi: 25 Juni - 1 Juli 2008

Saat ini usaha produksi sapi bakalan (cow calf operation) 99 % dilakukan oleh usaha peternakan rakyat berskala kecil. Usaha untuk menghasilkan pedet atau sapi bakalan model tersebut memerlu-kan biaya pakan yang relatif mahal; dengan asumsi rata-rata jarak beranak 500 hari dan biaya pakan Rp 4000,- per hari maka biaya pakan untuk menghasilkan pedet
sedikitnya Rp 2 juta.


Download lengkap

Daya Reduksi Kapang Arthrobotrys oligospora terhadap Larva Haemonchus contortus di Padang Gembalaan 0

Authors:
R.Z. AHMAD dan BERIAJAYA

Series:
Prosiding Seminar Teknologi Peternakan dan Veteriner (2005)
Abstract:

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya reduksi pemberian konidia Arthrobotrys oligospora terhadap larva infektif cacing Haemonchus contortus secara langsung dalam tinja yang disebarkan dalam petak rumput. Pada penelitian ini domba yang sudah terinfeksi cacing H. contortus diambil tinjanya, kemudian dicampur dengan konidia A. oligospora yang disebar ke dalam petak rumput. Setelah satu minggu, rumput dalam petak diambil dan diproses untuk mendapatkan larva H. contortus dan dihitung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian 6 x 106 konidia A. oligospora,yang diberikan secara langsung dicampur tinja menyebabkan penurunan jumlah larva dalam petak rumput mendekati nilai beda nyata (P= 0,076) bila dibandingkan dengan kelompok kontrol. Hasil ini menyimpulkan bahwa kapang A. oligospora dapat digunakan secara langsung untuk mengurangi pencemaran padang gembalaan oleh larva cacing nematoda saluran pencernaan.
Kata Kunci: A. oligospora, H. contortus, Daya Reduksi


Download Fulltext

Inovasi Teknologi Pakan Menuju Kemandirian Usaha Ternak Unggas 0

Authors:
Budi Tangendjaja

Series:
Buletin Ilmu Peternakan Indonesia ( WARTAZOA), Volume 17 No. 1 (2007)
Abstract:

Produksi unggas Indonesia telah dapat memenuhi kebutuhan daging dan telur ayam, dimana produk ini dihasilkan terutama dari usaha ayam ras modern. Biaya pakan unggas dapat mencapai 70% dari biaya produksi. Ransum unggas disusun dari bahan baku lokal dan impor dengan menggunakan teknik formulasi pakan dengan biaya terendah untuk memenuhi kebutuhan gizi unggas.

Bahan baku dikelompokkan ke dalam sumber energi, protein, hasil samping industri pertanian, mineral dan suplemen gizi. Imbuhan pakan yang terdiri dari antibiotika, enzim, bahan pengawet dan lain-lain ditambahkan untuk meningkatkan penampilan produksi. Pada tahun 2005, produksi pakan di Indonesia hampir mencapai 7 juta ton, yang terdiri dari 85% pakan unggas sedangkan sisanya untuk pakan ikan, babi dan ternak lainya. Ransum unggas umumnya menggunakan jagung dan bungkil kedelai sebagai bahan utama dan masing-masing dapat mencapai 55 dan 23% dari total ransum unggas. Kebutuhan bahan baku dapat dihitung dari produksi pakan dan untuk memenuhi kebutuhan bahan pakan. Tahun 2006 diperkirakan akan mengimpor jagung lebih dari 1,6 juta jagung dari Argentina, AS dan China, lebih dari 1,5 juta ton sumber protein karena ketidakcukupan produksi dalam negeri. Permasalahan dalam produksi pakan adalah suplai bahan baku, fluktuasi kualitas dan harga serta keterbatasan informasi. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk menggali bahan baku inkonvensional sumber protein seperti kacang-kacangan, biji-bijian, protein daun, limbah hewan dan sebagainya tetapi terbatas dalam aspek ketersediaan. Penelitian untuk meningkatkan protein dari sumber karbohidrat dan juga hasil samping pertanian belum layak untuk dikembangkan dalam industri pakan. Di masa mendatang inovasi teknologi sebaiknya dikembangkan untuk menjawab permasalahan yang ada pada industri pakan termasuk meningkatkan efisiensi, mengendalikan kualitas, pengolahan pakan dan mengembangkan imbuhan pakan. Skenario yang akan terjadi dengan industri unggas pada tahun 2020 dikemukakan dalam makalah ini.

Kata kunci: Unggas, pakan, teknologi, inovasi, bahan baku

Download Fulltext

Biosekuriti dan Manajemen Penanganan Penyakit Ayam Lokal 0


Ternak ayam lokal hampir semuanya dipelihara oleh peternak kecil di perkotaan maupun di pedesaan. Umumnya ayam dipelihara secara ekstensif(tidak dikandangkan) dan bila dikandangkan tempatnya sangat dekat bahkan berbaur dengan pemukiman. Pembudidayaan ayam lokal belum mengikuti good farming practice, sehingga sangat rentan terhadap serangan berbagai penyakit. Dengan kondisi tersebut, restrukturisasi manajemen peternakan unggas lokal sangat diperlukan sebagai salah satu upaya pemutusan mata rantai utama penyebaran penyakit antar unggas maupun antara unggas ke manusia.

Berjangkitnya wabah penyakit flu burung (Avian influenza) telah menyebabkan kerugian cukup besar bagi industri perunggasan dan diperkirakan mencapai sekitar Rp 4 triliun. Banyak ternak unggas yang mati maupun dimusnahkan akibat penyakit ini. Konsumen ragu untuk mengkonsumsi produk unggas, secara tidak langsung berdampak pada sektor budidaya. Salah satu penyebab sulitnya penanggulangan penyakit Avian influenza adalah unggas dipelihara pada lokasi tersebar, sehingga sulit dikontrol. Disamping itu pengelolaan pasar tradisional, pengawasan TPA (Tempat Pemotongan Ayam), pengumpul dan penjualan unggas hidup serta pengawasan lalulintas unggas masih belum sesuai dengan harapan pemerintah. Penerapan biosekuriti, manajemen perkandangan, tataruang, dan program vaksinasi belum dilakukan secara komprehensif atau masih bersifat parsial, karena berbagai keterbatasan yang dimiliki oleh usaha peternakan unggas skala kecil.

Sumber :http://peternakan.litbang.deptan.go.id

Kambing Boerka (Raja Kambing Potong Indonesia) 0

Kambing dan Domba, mempunyai peran yang sangat strategis bagi kehidupan masyarakat dan berkembang hampir di seluruh wilayah Indonesia. Kontribusinya dalam memenuhi kebutuhan daging nasional relatif masih kecil, sekitar 3-4%. Saat ini permintaan di dalam negeri masih dapat diculkupi oleh produk lokal. Namun terdapat kecenderungan yang nyata bahwa dengan peningkatan masyarakat dan tingginya tingkat urbanisasi, permintaan daging tersebut cenderung terus meningkat. Kondisi ini harus diantisipasi dengan mendorong investasi agar usaha peternakan Kambing dan Domba lebih produktif, efektif dan efisien sehingga mampu memenuhi pasar domestik, kebutuhan ternak qurban dan akikah serta keperluan pasar ekspor yang sangat menjanjikan.

Kambing Boerka hadir dalam rangka peluang pengembangan agribisnis berdayasaing bagi kesejahteraan masyarakat pedesaan serta usaha komersial.

Kambing Boerka merupakan hasil persilangan antara Kambing Boer (tipe pedaging) yang berasal dari Australia dengan kambing Kacang (tipe prolifik) yang merupakan kambing lokal Indonesia.

Kambing persilangan Boerka memiliki potensi sebagai kambing tipe pedaging di Indonesia, yang memiliki peformans yang baik dengan laju pertumbuhan dan kapasitas bobot tubuh yang tinggi serta mampu beradaptasi.

Proses diseminasi Kambing Boerka dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan (berbasis institusi pemerintah atau berbasis komunitas peternak/asosiasi.

Pengembangan berbasis institusi pemerintah perlu mengadopsi semangat otonomi daerah guna percepatan diseminasi.

Pada bulan Februari 2008 telah dilakukan tanda tangan kontrak kerjasama penelitian pengembangan produksi antara Lolit Kambing Potong dengan CV. Peternakan Harapan, yang memiliki areal pengembangan Kambing Boerka dengan luasan 70 hektar, yang berlokasi di Desa Simpang Aneuh Bayeun, Kecamatan Ranto Seluat, Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Nangroe Aceh Darussalam.

Teknologi yang diintroduksi antara lain: 1) Pejantan Boer; 2) Pola perkawinan untuk menghasilkan Boerka; 3) Jenis pakan lokal yang sesuai kondisi setempat; 4) Pengelolaan kesehatan terutama pengendalian cacing parasit baik internal maupun eksternal; 5) Struktur kandang dan 6) Pengembangan pakan suplemen/konsentrat berbasis bahan baku lokal।

Sumber : http://peternakan.litbang.deptan.go.id