Silahkan Masuk

Showing posts with label Pertanian. Show all posts
Showing posts with label Pertanian. Show all posts

PEMANFAATAN SALVINIA (SALVINIA MOLESTA) SEBAGAI PUPUK ORGANIK 0

Oleh: Amik Krismawati
Pengembangan tanaman hortikultura oleh petani miskin-sumberdaya (resource-poor farmers) pada umumnya kurang memuaskan. Salah satu penyebabnya adalah ketidakmampuan petani untuk memenuhi kebutuhan pupuk buatan bagi tanaman yang dikembangkannya. Untuk mengatasinya maka perlu dikembangkan potensi lokal yang dapat dijadikan sebagai substitusi pupuk buatan. Di Kalimantan Tengah, Salvinia sp merupakan salah satu paku air yang pertumbuhannya sangat ekspansif dan sering dimanfaatkan sebagai pakan ternak karena kaya akan protein.

Potensi lahan kering di Kalimantan Tengah seluas 7,7 juta hektar belum termanfaat secara optimal. Pada umumnya jenis tanah yang mendominasi adalah paleudults dan tropoquepts. Jenis tanah dari ordo Ultisol pada umumnya mendominasi lahan kering di Kalimantan Tengah. Tanah ini memiliki horison dengan akumulasi liat (horison argilik), kandungan basa-basa rendah, dan mudah sekali didrainase, struktur granular rendah sehingga mudah sekali tererosi. Kandungan basa dapat ditukar dan P rendah. Pada umumnya pH rendah akibat kejenuhan Al yang tinggi. Secara spesifik kendala tanah Ultisol di Kalteng adalah kemasaman tinggi, bahan organik rendah, kapasitas tukar kation rendah, kejenuhan basa dan hara NPK rendah, serta C/N rasio rendah.

Untuk pengembangan tanaman pada lahan kering Kalimantan Tengah dengan berbagai kendala kimiawi tersebut diperlukan tindakan ameliorasi dengan memberikan kapur untuk menurunkan tingkat kemasaman menambahkan bahan organik untuk memperbaiki sifat fisik tanah, memberikan berbagai jenis pupuk untuk menambah ketersediaan hara. Ketergantungan terhadap input luar yang besar untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman ini dikenal dengan istilah "High External Input Approach' (HEIA). Pemanfaatan input buatan yang berlebihan dan tidak seimbang dalam sistem HEIA bisa menimbulkan dampak besar terhadap situasi ekologi, ekonomi dan sosial politik. Kendala-kendala yang dihadapi dalam pengembangan sistem HEIA adalah sifat lingkungan fisik dan atau infrastruktur komersial (transportasi desa dan sistem distribusi input yang kurang dikembangkan, institusi simpan pinjam yang kurang memadai) tidak memungkinkan pemanfaatan input luar secara luas. Seringkali digunakan pestisida dan pupuk buatan hanya dalam jumlah yang rendah dan secara sporadis, jikalau digunakanpun hanya beberapa jenis tanaman dan hanya oleh segelintir kelompok elit petani berbagai kegiatan telah dilakukan baik oleh pemerintah maupun swasta untuk meyakinkan petani. Bahkan Pemda Kalteng telah menggalakkan 'Peningkatan Mutu lntensifikasi/(PMI) pada tanaman pangan. Namun, diperkirakan ada 80% lahan pertanian yang ada saat ini dikelola dengan sedikit atau bahkan sama sekali tanpa menggunakan bahan kimia, alsintan ataupun benih unggul.

Mengingat dampak negatif, pertanian modern dari sisi ekologi, ekonomi dan sosial politik, maka pada saat ini para ahli pertanian mulai mengubah sistem HEIA menjadi LEIA (Low External Input Approarch) Sistem LEIA lebih menekankan pada pemanfaatan sumberdaya lokal yang semakin intensif dengan sedikit atau sama sekali tidak menggunakan input luar. Altieri (2000) memaparkan berbagai pendekatan ekologi untuk mengembangkan pertanian berkelanjutan di antaranya adalah mengoptimalkan penggunaan sumber daya lokal dengan mengkombinasikannya pada sistem usahatani, mengurangi penggunaan input off-farm, eksternal dan tidak dapat diperbaharui yang berpotensi merusak lingkungan, berbahaya bagi kesehatan, serta dapat mengurangi biaya variabel. Makalah ini memaparkan hasil penelitian kemungkinan Salvinia sp. yang dikomposkan dengan aktivator EM-4 menjadi pilihan untuk mensubstitusi
penggunaan urea. Kompos dan Salvinia sp. ini diujicobakan pada pertanaman cabe di lahan kering dengan harapan akan mengurangi penggunaan urea dan juga menjadi sumber bahan organik tanah.

Sumber: Tabloid Sinar Tani

WAKTUNYA MELIRIK BIOETANOL SAGU 0

Keinginan Indonesia menjadikan sagu sebagai salah satu komoditi perdagangan penting untuk pasar global sudah sejak lama. Belum pernah kesampaian karena belum pernah ada langkah terobosan berarti untuk memanfaatkan potensi sumberdaya sagu Indonesia yang sering disanjung sebagai paling besar di dunia. Kini, dengan trend global mengembangkan energi alternatif bagi minyak bumi, apakah belum waktunya secara serius melirik potensi raksasa sagu Indonesia?

Suatu uraian yang disampaikan Sumaryono dari Balai Penelitian Perkebunan Indonesia menunjukkan sudah waktunya Indonesia untuk secara sungguh-sungguh merancang pengembangan sagu. Data yang diungkapkan antara lain potensi produksi hutan sagu Indonesia yang ditaksir mencapai 5 juta ton pati kering setahun. Ini setara dengan 3 juta kiloliter bioetanol per tahun. Kebutuhan premium nasional setahun diperkirakan 16 juta kiloliter. Pada blending premium: bioetanol 90:10, dibutuhkan 1,6 juta kiloliter bioetanol. Pati sagu dari hutan saja berpotensi memenuhi kebutuhan tersebut.

Sagu sejatinya bisa dikembangkan tanpa menimbulkan gangguan pada tanaman penghasil karbohidrat lainnya. Alasannya, sagu bisa tumbuh baik pada lahan marginal gambut, rawa, payau atau lahan tergenang lainnya. Sehingga tidak perlu berebutan lahan dengan tanaman pangan utama dan penting lainnya, karena di Indonesia pemanfaatan lahan-lahan marginal demikian masih minim.

Ada banyak alasan ilmiah untuk mengklaim sagu sebagai tanaman asli Indonesia. Ada keyakinan pusat asal sagu adalah kawasan sekitar Danau Sentani di Papua. Keragaman plasma nutfah sagu paling tinggi terdapat di daerah tersebut dan ini menjadi modal tak ternilai bagi pengembangan sagu nasional.

Faktor-faktor teknis pendukung lainnya termasuk teknik budidaya dan panen yang sederhana. Sekali tanam, jelas Sumaryono, sagu akan tetap berproduksi secara berkelanjutan selama puluhan tahun. Pada panen, yang ditebang ialah batang sagu yang menjelang berbunga (kandungan patinya tertinggi). Pohon dipotong-potong, kemudian empulurnya diolah.

Tanaman sagu dipanen sesudah berumur 8 tahun. Namun produktivitas pati sagu tidak kalah dengan tanaman karbohidrat semusim. Sagu mampu menghasilkan pati sebanyak 25 ton pati kering /ha/tahun. Angka tersebut bahkan lebih tinggi dibanding ubi kayu dan kentang dengan produktivitas pati kering l0-l5 ton/ha/tahun.

Kegunaan pati sagu juga terus berkembang yang mendorong permintaan pasar domestik dan internasional. Tepung sagu sudah mulai dikembangkan untuk kegunaan bahan baku berbagai produk makanan seperti roti, kue-kue, sirup berfruktosa tinggi, mie, dan bahan baku/pembantu pada industri lain seperti perekat, plastik, kertas, tekstil, kertas dsb. Limbah pengolahan sagu juga layak dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Tidak ketinggalan pemanfaatannya sebagai bahan pembuatan bioetanol.

Sumber: Tabliod Sinar Tani

UBI JALAR KAYA ANTOSIANIN" PILIHAN PANGAN SEHAT 0

AHSOL HASYIM 1 DAN M. YUSUF 2
Seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat, maka tuntutan konsumen terhadap bahan pangan juga kian bergeser. Bahan pangan yang kini mulai banyak diminati konsumen bukan saja yang mempunyai komposisi gizi yang baik serta penampakan dan citarasa yang menarik, tetapi juga harus memiliki fungsi fisiologis tertentu bagi tubuh. Hal ini berkaitan dengan keberadaan senyawa antosianin pada ubijalar yakni pigmen yang terdapat pada ubijalar ungu yang dapat berfungsi sebagai komponen pangan sehat.

Oleh karena itu Indonesia harus segera melakukan promosi dan mengembangkan budi daya umbi-umbian secara intensif, melalui peningkatan produktivitas serta varietas unggul, peningkatan kualitas dengan menggunakan varietas yang mempunyai kandungan zat gizi tinggi, maupun mengembangkan teknologi penanganan dan penyimpanan tepat guna agar tidak mudah rusak dan tahan lama.

sumber: sinar tani

Sistem Jabalsim untuk Benih Kedelai Bermutu 0

Demi kepentingan nasional yang multi faset, sudah lama disadari bahwa produksi kedelai dalam negeri harus dipacu dan dijaga sehingga tidak tergantung pada impor. Kuncinya adalah penguasaan dan pengembangan teknologi mulai dari varietas unggul yang sesuai secara agroklimatik, budidaya, pasca panen, prosesing dan aspek-aspek pendukung lainnya, seperti pemasaran, prasarana dsb. Dalam satu dua dekade terakhir, upaya pengembangan dan penguasaan teknologi berlangsung cukup pesat, khususnya menyangkut varietas unggul dan teknologi budidaya.

Tetapi kenyataan di lapangan, produksi cenderung merosot, ketergantungan pada impor dengan segala dampak negatifnya semakin parah. Impor tahun 2007 mencapai 1,3 juta ton atau dua kali lipat produksi dalam negeri. Padahal, Badan Litbang Pertanian cukup produktif, telah menghasilkan lebih dari 60 varietas unggul kedelai dengan tingkat produktivitas serta aneka kegunaan yang bisa bersaing dengan negara-negara asal impor. Ada sudah perangkat-perangkat teknologi produksi untuk berbagai agroekosistem yang dominan untuk pengembangan/perluasan areal tanam di Indonesia. Diantaranya paket teknologi budidaya kedelai untuk lahan kering masam, lahan sawah, lahan pasang surut dan teknologi pengelolaan tanaman secara terpadu (PTT). Areal yang potensial untuk pengembangan produksi juga cukup luas tersebar di belasan propinsi.

Varietas unggul merupakan kunci utama peningkatan produksi. Namun, sebagaimana dikemukakan Kepala Badan Litbang Pertanian DR. Ahmad Suryana sekitar awal tahun ini, keberhasilan pengembangan varietas unggul ditentukan pula oleh faktor lainnya, terutama ketersediaan benih dan mutu benih itu sendiri. “Penggunaan benih bermutu tinggi merupakan prasyarat utama dalam budidaya kedelai."

Sistem Jabalsim
Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi) Malang yang menjadi wadah penggodokan varietas-varietas unggul kedelai Indonesia itu dalam satu uraiannya mengakui tidak atau belum berkembangnya sistem penangkaran benih kedelai di negeri ini. Yang dikemukakan sebagai salah satu penyebabnya ialah bahwa dibandingkan dengan benih padi dan jagung, harga benih kedelai relatif murah namun proses produksinya lebih sulit. Untuk memecahkan masalah ini, Balitkabi menggagas agar sistem "Jalur Benih Antar-Lapang dan Musim" yang disingkat "Jabalsim" perlu dikembangkan di waktu mendatang.

Sumber: www.sinartani.com

Menanti Padi Hibrida Apomictic 0

Padi hibrida memang suatu terobosan besar dunia riset padi. Dengan potensi hasil yang tinggi, padi hibrida menjadi bintang lapangan industri perpadian dunia masa kini. Namun, aplikasinya di lapangan belum secemerlang rekor-rekor hasil padi hibrida. Petani, khususnya petani kecil tidak mudah menjadikan padi hibrida menjadi teman akrab yang penolong. Karena padi hibrida benihnya hanya untuk sekali tanam, penanaman berikutnya harus beli benih baru, dan harga benihnya cukup mahal.

Menghadapi kenyataan ini, lembaga riset padi internasional IRRI tidak tinggal diam. Bahkan hampir sejak awal, yakni 20 tahun yang lalu para penelitinya sudah mulai melakukan studi kemungkinan sistem pembiakan alternatif padi hibrida. Yakni agar di ladang petani, hasil padi hibrida yang ditanam juga bisa dijadikan bibit untuk penanaman selanjutnya. Tepatnya, agar sistem pembiakan padi hibrida yang melekatkan/memasangkan secara tetap susunan genetis khusus hibrida sehingga bisa benar-benar membiak di lahan petani. Sistem pembiakan yang sedang diupayakan saat ini ialah apomixis, reproduksi aseksual melalui benih.

Pada tanaman seksual, embrio benih berasal dari fusi sel sperma dari tepung sari dengan sel telur dari ovula. Masing-masing sel yang berfusi itu memiliki kandungan genetis yang hanya separuh dibanding sel-sel biasa. Proses pemaruhan kandungan genetik tersebut dikenal sebagai proses meiosis. Pada tanaman apomict, proses meiosis pada saat pembentukan embrio dicegah sehingga menghasilkan turunan yang secara genetis identik dengan induk betinanya. Sedangkan induk jantan yang tidak berperan pada penyusunan embrio berperan pada pembentukan endosperma yang berupa jaringan mengandung pati.

Di antara 250.000 spesies tanaman berbunga di dunia, ada 400 spesies yang diketahui merupakan tanaman apomictic. Di antaranya ada yang masih kerabat gandum, jagung dan millet mutiara, tetapi tidak ada yang kerabat tanaman padi. Ini memang kurang mendukung, namun itulah yang diupayakan oleh proyek penelitian IRRI sejak tahun 1997, yakni pendekatan apomixis bagi padi hibrida.

Sumber: www.sinartani.com